WhatsApp Icon
Keluarkan Sedekah Terbaikmu di Hari Jumat: Menjemput Berkah dengan Berbagi

Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dalam Islam. Ia dikenal sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari, yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan. Pada hari ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, termasuk sedekah. Oleh karena itu, mengeluarkan sedekah terbaik di hari Jumat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi setiap Muslim.

Sedekah bukan hanya tentang seberapa besar jumlah yang kita keluarkan, melainkan tentang keikhlasan dan ketulusan hati. Bahkan, sedekah yang kecil namun diberikan dengan niat yang tulus dapat memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Hari Jumat menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas sedekah kita—baik dari segi jumlah, niat, maupun dampaknya bagi penerima.

Mengapa sedekah di hari Jumat begitu istimewa? Karena hari ini adalah waktu yang penuh dengan keberkahan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pahala amal kebaikan di hari Jumat dilipatgandakan. Selain itu, terdapat waktu mustajab di hari Jumat di mana doa-doa dikabulkan. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membuka pintu doa dan keberkahan dalam hidup kita.

Mengeluarkan sedekah terbaik juga berarti memberikan sesuatu yang kita cintai. Tidak harus selalu berupa uang, sedekah bisa berupa makanan, pakaian layak pakai, atau bahkan bantuan tenaga dan waktu. Namun, yang terpenting adalah memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, bukan sekadar yang tersisa. Dengan begitu, kita belajar untuk lebih peduli, empati, dan tidak terikat berlebihan pada harta dunia.

Selain itu, sedekah memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Secara spiritual, sedekah dapat membersihkan harta dan jiwa, menghapus dosa, serta mendatangkan ketenangan hati. Secara sosial, sedekah membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan, mempererat tali persaudaraan, dan menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan sejahtera.

Di era digital saat ini, bersedekah menjadi semakin mudah. Kita bisa menyalurkan sedekah melalui berbagai platform terpercaya seperti BAZNAS, yang memastikan bantuan sampai kepada yang berhak. Kemudahan ini seharusnya menjadi motivasi tambahan bagi kita untuk tidak menunda-nunda berbuat kebaikan.

Mari jadikan hari Jumat sebagai kebiasaan untuk berbagi. Sisihkan sebagian rezeki kita secara rutin, meskipun sedikit, namun konsisten. Ingatlah bahwa harta yang kita sedekahkan tidak akan berkurang, melainkan akan diganti dengan keberkahan yang jauh lebih besar.

 

Akhirnya, mengeluarkan sedekah terbaik di hari Jumat bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang membentuk diri menjadi pribadi yang lebih dermawan dan penuh kasih. Dengan niat yang tulus dan tindakan nyata, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam investasi kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.

Mari tunaikan sedekah terbaikmu melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek.

27/03/2026 | Kontributor: Humas
Jangan Keliru! Ini Perbedaan Kafarat, Fidyah, dan Denda dalam Islam

Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat berbagai ketentuan syariat yang mengatur ibadah maupun tanggung jawab ketika terjadi pelanggaran terhadap aturan agama. Tiga istilah yang sering muncul dan kerap disalahpahami adalah kafarat, fidyah, dan denda (dam). Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama berkaitan dengan pembayaran atau penggantian, ketiganya memiliki pengertian, sebab, dan tata cara pelaksanaan yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan di antara ketiganya agar tidak keliru dalam menunaikannya.

Kafarat merupakan bentuk tebusan yang wajib dilakukan oleh seseorang karena melanggar ketentuan tertentu dalam syariat Islam. Kafarat biasanya berkaitan dengan pelanggaran yang cukup serius dan memiliki aturan pelaksanaan yang jelas. Salah satu contoh kafarat yang paling dikenal adalah kafarat bagi orang yang dengan sengaja membatalkan puasa Ramadan dengan melakukan hubungan suami istri di siang hari. Dalam kondisi ini, pelaku diwajibkan membayar kafarat dengan urutan tertentu, yaitu memerdekakan budak (jika memungkinkan), atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin. Tujuan dari kafarat adalah sebagai bentuk penebusan kesalahan sekaligus pelajaran agar pelanggaran tersebut tidak diulangi di kemudian hari.

Berbeda dengan kafarat, fidyah merupakan pengganti ibadah puasa yang tidak dapat dilaksanakan karena alasan yang dibenarkan syariat, seperti usia lanjut, sakit menahun, atau kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak mampu berpuasa. Fidyah bukanlah hukuman, melainkan bentuk keringanan dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang memiliki keterbatasan. Cara membayar fidyah biasanya dilakukan dengan memberi makan kepada fakir miskin sejumlah hari puasa yang ditinggalkan. Misalnya, seseorang yang tidak mampu berpuasa selama 30 hari Ramadan karena sakit menahun, maka ia wajib memberikan makanan kepada 30 orang miskin sebagai fidyah.

Sementara itu, denda (dam) dalam Islam umumnya berkaitan dengan pelanggaran dalam ibadah tertentu, terutama dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah. Denda atau dam wajib ditunaikan apabila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan-larangan ihram, seperti mencukur rambut sebelum waktunya, memakai wewangian, atau melakukan kesalahan dalam tata cara ibadah haji dan umrah. Bentuk dam biasanya berupa penyembelihan hewan tertentu, seperti kambing, yang kemudian dagingnya dibagikan kepada fakir miskin di Tanah Suci.

Memahami perbedaan antara kafarat, fidyah, dan denda sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan kewajiban dengan benar. Kesalahan dalam memahami ketiganya dapat berakibat pada pelaksanaan ibadah yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Selain itu, pemahaman yang baik juga membantu umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menjaga ibadah dan menghindari pelanggaran.

Di balik ketentuan kafarat, fidyah, dan denda, terdapat hikmah yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa setiap kesalahan memiliki jalan untuk diperbaiki, sementara setiap keterbatasan mendapatkan keringanan yang penuh kasih sayang. Dengan menunaikan kewajiban tersebut sesuai aturan, seorang Muslim tidak hanya membersihkan diri dari kesalahan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama, terutama kepada fakir miskin yang menerima manfaat dari pelaksanaan kafarat, fidyah, maupun dam.

Dengan memahami perbedaan ketiganya secara jelas, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih yakin, tepat, dan penuh tanggung jawab, serta senantiasa menjaga diri agar tetap berada dalam koridor syariat yang telah ditetapkan.

Tunaikan FIDYAH dan KAFARAT melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek .

26/03/2026 | Kontributor: Humas
Memahami Hikmah Kafarat: Jalan Menebus Kesalahan dan Meraih Ampunan Allah

Dalam kehidupan manusia, kesalahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Sebagai makhluk yang lemah, manusia terkadang lalai atau melakukan pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Namun, Islam sebagai agama yang penuh rahmat memberikan jalan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Salah satu bentuk jalan perbaikan itu adalah melalui kafarat, yaitu tebusan yang wajib ditunaikan akibat pelanggaran tertentu dalam syariat Islam. Di balik kewajiban kafarat, terdapat hikmah besar yang tidak hanya membersihkan dosa, tetapi juga mendidik jiwa agar menjadi lebih baik.

Kafarat bukan sekadar bentuk hukuman, melainkan sarana pendidikan spiritual bagi seorang Muslim. Ketika seseorang melakukan pelanggaran, seperti membatalkan puasa Ramadan dengan sengaja melalui hubungan suami istri di siang hari, maka ia diwajibkan menunaikan kafarat sesuai ketentuan syariat. Proses menunaikan kafarat, seperti berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan fakir miskin, mengandung makna mendalam tentang kesungguhan dalam memperbaiki diri. Kewajiban tersebut mengajarkan bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.

Salah satu hikmah utama dari kafarat adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab. Dalam Islam, setiap tindakan memiliki dampak, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan adanya kafarat, seseorang diingatkan bahwa pelanggaran terhadap aturan agama tidak boleh dianggap remeh. Kafarat menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh, sehingga menumbuhkan sikap disiplin dan kehati-hatian dalam menjalankan ibadah.

Selain itu, kafarat juga memiliki hikmah membersihkan jiwa dari rasa bersalah. Ketika seseorang menyadari kesalahan dan berusaha menebusnya dengan melaksanakan kafarat, ia akan merasakan ketenangan batin. Proses menunaikan kafarat menjadi bentuk taubat nyata yang menunjukkan kesungguhan dalam memohon ampunan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kafarat tidak hanya berdampak pada aspek hukum ibadah, tetapi juga pada ketenangan spiritual dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.

Hikmah lainnya adalah menumbuhkan kepedulian sosial. Dalam beberapa bentuk kafarat, seseorang diwajibkan memberi makan kepada fakir miskin atau membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Melalui kafarat, pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang dapat menjadi sebab kebaikan bagi orang lain, khususnya mereka yang kurang mampu. Dengan demikian, kafarat memiliki nilai sosial yang tinggi karena membantu meringankan beban kaum dhuafa.

Kafarat juga mengajarkan nilai kesabaran dan keteguhan hati. Misalnya, kewajiban berpuasa dua bulan berturut-turut bagi pelanggaran tertentu membutuhkan tekad dan kesabaran yang kuat. Proses tersebut melatih seseorang untuk menahan diri, memperbaiki kebiasaan, serta meningkatkan kualitas ibadah. Kesabaran yang dibangun melalui pelaksanaan kafarat menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, kafarat mengandung pesan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Adanya kewajiban kafarat menunjukkan bahwa Islam tidak menutup pintu bagi orang yang melakukan kesalahan. Justru, Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali ke jalan yang benar melalui taubat dan perbaikan diri. Kafarat menjadi bukti bahwa setiap kesalahan masih memiliki jalan untuk diperbaiki selama seseorang bersungguh-sungguh dalam memohon ampunan.

 

Dengan memahami hikmah kafarat, umat Islam diharapkan tidak memandangnya sebagai beban semata, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kafarat adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar setiap kesalahan dapat ditebus dengan amal kebaikan. Melalui pelaksanaan kafarat yang ikhlas dan sesuai syariat, seorang Muslim dapat membersihkan diri dari dosa, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta meraih ampunan Allah SWT yang luas dan penuh rahmat.

26/03/2026 | Kontributor: Humas
Mengenal Arti Kafarat

Kafarat adalah suatu cara pengganti yang bertujuan menghapus dosa-dosa yang dilakukan secara sengaja. Kafarat dapat dikatakan sebagai denda yang wajib dibayarkan karena seseorang telah melakukan pelanggaran. Tujuannya, agar pelanggaran yang dilakukan tidak terhitung sebagai dosa, baik di dunia maupun akhirat.

Meski terdapat ketentuan kafarat, tapi sebaiknya sebagai umat Islam, sebaiknya menjauhi larangan Allah SWT. dan melaksanakan perintah-Nya.

Dalil tentang Kafarat

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 89 tentang kafarat:

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya)."

Cara Membayar Kafarat

1. Pelanggaran Sumpah

Jika pernah melakukan dosa berupa pelanggaran sumpah, terdapat beberapa cara kafarat yang harus dilakukan yaitu:

a. Memberi makan untuk 10 orang fakir miskin

Maksudnya adalah menyiapkan lauk-pauk yang lengkap untuk fakir miskin.

b. Memberi pakaian untuk 10 orang fakir miskin

Cara ini terdapat beberapa pendapat ulama, tapi pada umumnya adalah memberi pakaian yang layak digunakan untuk shalat kepada para fakir miskin.

c. Membebaskan budak muslim

Cara ini dilakukan bagi orang yang tidak bisa membayar kafarat dengan cara-cara sebelumnya. Mereka bisa melakukannya dengan cara membebaskan budak beragama Islam.

d. Menunaikan puasa selama 3 hari

Cara ini juga bisa dilakukan jika tidak mampu membayar kafarat dengan cara-cara sebelumnya.

2. Menebus dosa karena selain pelanggaran sumpah

a. Membebaskan seorang budak perempuan muslimah

Cara ini dilakukan untuk kafarat selain pelanggaran sumpah. Allah SWT. akan menerima kafaratnya dan mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya.

b. Melakukan puasa selama dua bulan

Cara ini dilakukan jika seorang pelanggar tidak mampu membayar kafarat dengan cara pertama. Maka, dia wajib melakukan puasa selama dua bulan berturut turut.

c. Memberi makanan untuk 60 fakir miskin

Jika kedua cara sebelumnya tidak sanggup dilakukan, maka bisa diganti dengan memberi makan bagi 60 orang fakir miskin. Untuk takaran makanannya adalah satu mud atau sama dengan biaya satu kali makan untuk satu orang.

Bulan Ramadhan sebagai bulan suci yang penuh dengan amalan-amalan yang dicintai Allah Swt. Salah satu amalan penyempurna ibadah puasa kita adalah Zakat Fitrah. Selain dapat menyucikan hati dan jiwa, Zakat Fitrah menjadi pilar keseimbangan sosial, pembuka pintu rezeki, dan amalan yang bisa menghadirkan rasa syukur dan kebermaknaan dalam hidup kita. 

Sebagai Lembaga Pemerintah Nonstruktural yang mengelola dan mengkoordinasikan zakat secara nasional, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) saat ini dipercaya publik berkat komitmen dan program-programnya dalam menghimpun dan menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS). BAZNAS RI merupakan badan resmi dan satu-satunya yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2001. Mari kunjungi laman Bayar Zakat, untuk melakukan zakat online. Semoga amal Jariyah kita senantiasa mengalir pahalanya, Aamiin Ya Rabb.

26/03/2026 | Kontributor: Humas
Panduan Lengkap Membayar Kafarat: Niat, Jenis, Tata Cara Lewat BAZNAS Kabupaten Trenggalek

 

Dalam Islam, Kafarat (Denda) adalah mekanisme penebusan dosa atau kesalahan atas pelanggaran hukum Allah tertentu. Berbeda dengan zakat atau infak biasa, kafarat bersifat wajib sebagai bentuk pertobatan agar tanggungan spiritual kita terselesaikan dengan sempurna. Kafarat berasal dari kata Kafara yang berarti menutupi. Secara istilah, ini adalah amalan tertentu yang dilakukan untuk menghapus dosa atau menutupi kesalahan yang dilakukan secara sengaja, seperti melanggar sumpah, melakukan hubungan suami-istri di siang hari saat Ramadan, atau membunuh hewan buruan saat ihram.

Lalu Bagaimana sih Niat Menunaikan Kafarat itu?

Niat adalah inti dari setiap ibadah, dan berikut adalah beberapa contoh niat sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan:

Kafarat Melanggar Sumpah (Kafaratul Yamin)

Diberikan jika seseorang bersumpah atas nama Allah namun melanggarnya, bentuk niatnya seperti ini :

Nawaitu an ukhrija hadzihil kaffarata ‘an naktsil yamini fardhan lillahi ta'ala.

Artinya: “Aku niat mengeluarkan kafarat ini karena melanggar sumpah, fardu karena Allah Ta'ala.”

Kafarat Hubungan Suami-Istri di Siang Hari Ramadan

Jika tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut, maka wajib memberi makan 60 orang miskin, atau dapat menunaikannya melalui Baznas Kota Yogyakarta.

Nawaitu an ukhrija hadzihil kaffarata 'an jima'i nahari ramadhana fardhan lillahi ta'ala.

Artinya: “Aku niat mengeluarkan kafarat ini atas hubungan badan di siang hari Ramadan, fardu karena Allah Ta'ala.”

Kafarat Umum (Penebus Kesalahan)

Jika ragu dengan lafal spesifik, Anda bisa menggunakan niat umum, seperti ini:

“Saya niat menunaikan kafarat (sebutkan jenis kesalahannya) fardu karena Allah Ta'ala.”

Yuk Simak Bagaimana Cara Menunaikan Kafarat di Baznas Kota Yogyakarta.

Baznas Kota Yogyakarta memfasilitasi pengelolaan kafarat Anda untuk disalurkan kepada fakir miskin di wilayah Kota Jogja secara tepat sasaran.

Jalur online (mudah & cepat), sangat praktis bagi Anda yang sibuk atau berada di luar wilayah Kabupaten Trenggalek:

1.    Transfer Bank: Lakukan transfer ke rekening resmi BAZNAS Kabupaten Trenggalek :

Konfirmasi: Kirimkan bukti transfer melalui WhatsApp ke nomor 0822-2821-9090.

Layanan Website: Kunjungi kabtrenggalek.baznas.go.id/bayarzakat dan pilih kategori pembayaran Kafarat atau Fidyah.

2. Jalur Offline (Konsultasi Langsung), bagi Anda yang ingin berkonsultasi mengenai perhitungan nominal kafarat, dapat mengunjungi kantor kami yang berada di Lingkup Pendapa Manggala Praja Nugraha sisi selatan (Jalan Pemuda Nomor 01 Surodakan Trenggalek, 66316). Anda akan dibantu oleh petugas amil untuk menghitung jumlah yang harus dibayarkan sesuai syariat dan dibimbing dalam pembacaan niat/akad.

Mengapa Harus Melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek?

1. Resmi & Amanah: Lembaga pemerintah non-struktural yang diakui negara.

2. Penyaluran Tepat: Memiliki data mustahik (penerima) yang akurat di wilayah Kabupaten Trenggalek.

3. Transparan: Laporan pengelolaan dana dapat diakses secara terbuka.

Jangan tunda kewajiban kafarat Anda. Percayakan pelaksanaannya pada BAZNAS Kabupaten Trenggalek sebagai lembaga zakat resmi dan terpercaya yang siap memastikan kafarat Anda tersalurkan kepada mereka yang benar-benar berhak dan lebih merata.

Mari tunaikan kewajiban kafarat dengan penuh keikhlasan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Trenggalek, agar ibadah kita semakin sempurna dan membawa keberkahan bagi banyak orang.

 

26/03/2026 | Kontributor: Humas

Artikel Terbaru

Keluarkan Sedekah Terbaikmu di Hari Jumat: Menjemput Berkah dengan Berbagi
Keluarkan Sedekah Terbaikmu di Hari Jumat: Menjemput Berkah dengan Berbagi
Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dalam Islam. Ia dikenal sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari, yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan. Pada hari ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, termasuk sedekah. Oleh karena itu, mengeluarkan sedekah terbaik di hari Jumat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi setiap Muslim. Sedekah bukan hanya tentang seberapa besar jumlah yang kita keluarkan, melainkan tentang keikhlasan dan ketulusan hati. Bahkan, sedekah yang kecil namun diberikan dengan niat yang tulus dapat memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Hari Jumat menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas sedekah kita—baik dari segi jumlah, niat, maupun dampaknya bagi penerima. Mengapa sedekah di hari Jumat begitu istimewa? Karena hari ini adalah waktu yang penuh dengan keberkahan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pahala amal kebaikan di hari Jumat dilipatgandakan. Selain itu, terdapat waktu mustajab di hari Jumat di mana doa-doa dikabulkan. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membuka pintu doa dan keberkahan dalam hidup kita. Mengeluarkan sedekah terbaik juga berarti memberikan sesuatu yang kita cintai. Tidak harus selalu berupa uang, sedekah bisa berupa makanan, pakaian layak pakai, atau bahkan bantuan tenaga dan waktu. Namun, yang terpenting adalah memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, bukan sekadar yang tersisa. Dengan begitu, kita belajar untuk lebih peduli, empati, dan tidak terikat berlebihan pada harta dunia. Selain itu, sedekah memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Secara spiritual, sedekah dapat membersihkan harta dan jiwa, menghapus dosa, serta mendatangkan ketenangan hati. Secara sosial, sedekah membantu meringankan beban mereka yang membutuhkan, mempererat tali persaudaraan, dan menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan sejahtera. Di era digital saat ini, bersedekah menjadi semakin mudah. Kita bisa menyalurkan sedekah melalui berbagai platform terpercaya seperti BAZNAS, yang memastikan bantuan sampai kepada yang berhak. Kemudahan ini seharusnya menjadi motivasi tambahan bagi kita untuk tidak menunda-nunda berbuat kebaikan. Mari jadikan hari Jumat sebagai kebiasaan untuk berbagi. Sisihkan sebagian rezeki kita secara rutin, meskipun sedikit, namun konsisten. Ingatlah bahwa harta yang kita sedekahkan tidak akan berkurang, melainkan akan diganti dengan keberkahan yang jauh lebih besar. Akhirnya, mengeluarkan sedekah terbaik di hari Jumat bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang membentuk diri menjadi pribadi yang lebih dermawan dan penuh kasih. Dengan niat yang tulus dan tindakan nyata, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam investasi kebaikan untuk kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Mari tunaikan sedekah terbaikmu melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek.
ARTIKEL27/03/2026 | Humas
Jangan Keliru! Ini Perbedaan Kafarat, Fidyah, dan Denda dalam Islam
Jangan Keliru! Ini Perbedaan Kafarat, Fidyah, dan Denda dalam Islam
Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat berbagai ketentuan syariat yang mengatur ibadah maupun tanggung jawab ketika terjadi pelanggaran terhadap aturan agama. Tiga istilah yang sering muncul dan kerap disalahpahami adalah kafarat, fidyah, dan denda (dam). Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama berkaitan dengan pembayaran atau penggantian, ketiganya memiliki pengertian, sebab, dan tata cara pelaksanaan yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami perbedaan di antara ketiganya agar tidak keliru dalam menunaikannya. Kafarat merupakan bentuk tebusan yang wajib dilakukan oleh seseorang karena melanggar ketentuan tertentu dalam syariat Islam. Kafarat biasanya berkaitan dengan pelanggaran yang cukup serius dan memiliki aturan pelaksanaan yang jelas. Salah satu contoh kafarat yang paling dikenal adalah kafarat bagi orang yang dengan sengaja membatalkan puasa Ramadan dengan melakukan hubungan suami istri di siang hari. Dalam kondisi ini, pelaku diwajibkan membayar kafarat dengan urutan tertentu, yaitu memerdekakan budak (jika memungkinkan), atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin. Tujuan dari kafarat adalah sebagai bentuk penebusan kesalahan sekaligus pelajaran agar pelanggaran tersebut tidak diulangi di kemudian hari. Berbeda dengan kafarat, fidyah merupakan pengganti ibadah puasa yang tidak dapat dilaksanakan karena alasan yang dibenarkan syariat, seperti usia lanjut, sakit menahun, atau kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak mampu berpuasa. Fidyah bukanlah hukuman, melainkan bentuk keringanan dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang memiliki keterbatasan. Cara membayar fidyah biasanya dilakukan dengan memberi makan kepada fakir miskin sejumlah hari puasa yang ditinggalkan. Misalnya, seseorang yang tidak mampu berpuasa selama 30 hari Ramadan karena sakit menahun, maka ia wajib memberikan makanan kepada 30 orang miskin sebagai fidyah. Sementara itu, denda (dam) dalam Islam umumnya berkaitan dengan pelanggaran dalam ibadah tertentu, terutama dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah. Denda atau dam wajib ditunaikan apabila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan-larangan ihram, seperti mencukur rambut sebelum waktunya, memakai wewangian, atau melakukan kesalahan dalam tata cara ibadah haji dan umrah. Bentuk dam biasanya berupa penyembelihan hewan tertentu, seperti kambing, yang kemudian dagingnya dibagikan kepada fakir miskin di Tanah Suci. Memahami perbedaan antara kafarat, fidyah, dan denda sangat penting agar umat Islam dapat menjalankan kewajiban dengan benar. Kesalahan dalam memahami ketiganya dapat berakibat pada pelaksanaan ibadah yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Selain itu, pemahaman yang baik juga membantu umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam menjaga ibadah dan menghindari pelanggaran. Di balik ketentuan kafarat, fidyah, dan denda, terdapat hikmah yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa setiap kesalahan memiliki jalan untuk diperbaiki, sementara setiap keterbatasan mendapatkan keringanan yang penuh kasih sayang. Dengan menunaikan kewajiban tersebut sesuai aturan, seorang Muslim tidak hanya membersihkan diri dari kesalahan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama, terutama kepada fakir miskin yang menerima manfaat dari pelaksanaan kafarat, fidyah, maupun dam. Dengan memahami perbedaan ketiganya secara jelas, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan lebih yakin, tepat, dan penuh tanggung jawab, serta senantiasa menjaga diri agar tetap berada dalam koridor syariat yang telah ditetapkan. Tunaikan FIDYAH dan KAFARAT melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek .
ARTIKEL26/03/2026 | Humas
Memahami Hikmah Kafarat: Jalan Menebus Kesalahan dan Meraih Ampunan Allah
Memahami Hikmah Kafarat: Jalan Menebus Kesalahan dan Meraih Ampunan Allah
Dalam kehidupan manusia, kesalahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Sebagai makhluk yang lemah, manusia terkadang lalai atau melakukan pelanggaran terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Namun, Islam sebagai agama yang penuh rahmat memberikan jalan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Salah satu bentuk jalan perbaikan itu adalah melalui kafarat, yaitu tebusan yang wajib ditunaikan akibat pelanggaran tertentu dalam syariat Islam. Di balik kewajiban kafarat, terdapat hikmah besar yang tidak hanya membersihkan dosa, tetapi juga mendidik jiwa agar menjadi lebih baik. Kafarat bukan sekadar bentuk hukuman, melainkan sarana pendidikan spiritual bagi seorang Muslim. Ketika seseorang melakukan pelanggaran, seperti membatalkan puasa Ramadan dengan sengaja melalui hubungan suami istri di siang hari, maka ia diwajibkan menunaikan kafarat sesuai ketentuan syariat. Proses menunaikan kafarat, seperti berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan fakir miskin, mengandung makna mendalam tentang kesungguhan dalam memperbaiki diri. Kewajiban tersebut mengajarkan bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Salah satu hikmah utama dari kafarat adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab. Dalam Islam, setiap tindakan memiliki dampak, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dengan adanya kafarat, seseorang diingatkan bahwa pelanggaran terhadap aturan agama tidak boleh dianggap remeh. Kafarat menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh, sehingga menumbuhkan sikap disiplin dan kehati-hatian dalam menjalankan ibadah. Selain itu, kafarat juga memiliki hikmah membersihkan jiwa dari rasa bersalah. Ketika seseorang menyadari kesalahan dan berusaha menebusnya dengan melaksanakan kafarat, ia akan merasakan ketenangan batin. Proses menunaikan kafarat menjadi bentuk taubat nyata yang menunjukkan kesungguhan dalam memohon ampunan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kafarat tidak hanya berdampak pada aspek hukum ibadah, tetapi juga pada ketenangan spiritual dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Hikmah lainnya adalah menumbuhkan kepedulian sosial. Dalam beberapa bentuk kafarat, seseorang diwajibkan memberi makan kepada fakir miskin atau membantu mereka yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Melalui kafarat, pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang dapat menjadi sebab kebaikan bagi orang lain, khususnya mereka yang kurang mampu. Dengan demikian, kafarat memiliki nilai sosial yang tinggi karena membantu meringankan beban kaum dhuafa. Kafarat juga mengajarkan nilai kesabaran dan keteguhan hati. Misalnya, kewajiban berpuasa dua bulan berturut-turut bagi pelanggaran tertentu membutuhkan tekad dan kesabaran yang kuat. Proses tersebut melatih seseorang untuk menahan diri, memperbaiki kebiasaan, serta meningkatkan kualitas ibadah. Kesabaran yang dibangun melalui pelaksanaan kafarat menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, kafarat mengandung pesan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Adanya kewajiban kafarat menunjukkan bahwa Islam tidak menutup pintu bagi orang yang melakukan kesalahan. Justru, Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali ke jalan yang benar melalui taubat dan perbaikan diri. Kafarat menjadi bukti bahwa setiap kesalahan masih memiliki jalan untuk diperbaiki selama seseorang bersungguh-sungguh dalam memohon ampunan. Dengan memahami hikmah kafarat, umat Islam diharapkan tidak memandangnya sebagai beban semata, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kafarat adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar setiap kesalahan dapat ditebus dengan amal kebaikan. Melalui pelaksanaan kafarat yang ikhlas dan sesuai syariat, seorang Muslim dapat membersihkan diri dari dosa, menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, serta meraih ampunan Allah SWT yang luas dan penuh rahmat.
ARTIKEL26/03/2026 | Humas
Mengenal Arti Kafarat
Mengenal Arti Kafarat
Kafarat adalah suatu cara pengganti yang bertujuan menghapus dosa-dosa yang dilakukan secara sengaja. Kafarat dapat dikatakan sebagai denda yang wajib dibayarkan karena seseorang telah melakukan pelanggaran. Tujuannya, agar pelanggaran yang dilakukan tidak terhitung sebagai dosa, baik di dunia maupun akhirat. Meski terdapat ketentuan kafarat, tapi sebaiknya sebagai umat Islam, sebaiknya menjauhi larangan Allah SWT. dan melaksanakan perintah-Nya. Dalil tentang Kafarat Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 89 tentang kafarat: "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya)." Cara Membayar Kafarat 1. Pelanggaran Sumpah Jika pernah melakukan dosa berupa pelanggaran sumpah, terdapat beberapa cara kafarat yang harus dilakukan yaitu: a. Memberi makan untuk 10 orang fakir miskin Maksudnya adalah menyiapkan lauk-pauk yang lengkap untuk fakir miskin. b. Memberi pakaian untuk 10 orang fakir miskin Cara ini terdapat beberapa pendapat ulama, tapi pada umumnya adalah memberi pakaian yang layak digunakan untuk shalat kepada para fakir miskin. c. Membebaskan budak muslim Cara ini dilakukan bagi orang yang tidak bisa membayar kafarat dengan cara-cara sebelumnya. Mereka bisa melakukannya dengan cara membebaskan budak beragama Islam. d. Menunaikan puasa selama 3 hari Cara ini juga bisa dilakukan jika tidak mampu membayar kafarat dengan cara-cara sebelumnya. 2. Menebus dosa karena selain pelanggaran sumpah a. Membebaskan seorang budak perempuan muslimah Cara ini dilakukan untuk kafarat selain pelanggaran sumpah. Allah SWT. akan menerima kafaratnya dan mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya. b. Melakukan puasa selama dua bulan Cara ini dilakukan jika seorang pelanggar tidak mampu membayar kafarat dengan cara pertama. Maka, dia wajib melakukan puasa selama dua bulan berturut turut. c. Memberi makanan untuk 60 fakir miskin Jika kedua cara sebelumnya tidak sanggup dilakukan, maka bisa diganti dengan memberi makan bagi 60 orang fakir miskin. Untuk takaran makanannya adalah satu mud atau sama dengan biaya satu kali makan untuk satu orang. Bulan Ramadhan sebagai bulan suci yang penuh dengan amalan-amalan yang dicintai Allah Swt. Salah satu amalan penyempurna ibadah puasa kita adalah Zakat Fitrah. Selain dapat menyucikan hati dan jiwa, Zakat Fitrah menjadi pilar keseimbangan sosial, pembuka pintu rezeki, dan amalan yang bisa menghadirkan rasa syukur dan kebermaknaan dalam hidup kita. Sebagai Lembaga Pemerintah Nonstruktural yang mengelola dan mengkoordinasikan zakat secara nasional, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) saat ini dipercaya publik berkat komitmen dan program-programnya dalam menghimpun dan menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS). BAZNAS RI merupakan badan resmi dan satu-satunya yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2001. Mari kunjungi laman Bayar Zakat, untuk melakukan zakat online. Semoga amal Jariyah kita senantiasa mengalir pahalanya, Aamiin Ya Rabb.
ARTIKEL26/03/2026 | Humas
Panduan Lengkap Membayar Kafarat: Niat, Jenis, Tata Cara Lewat BAZNAS Kabupaten Trenggalek
Panduan Lengkap Membayar Kafarat: Niat, Jenis, Tata Cara Lewat BAZNAS Kabupaten Trenggalek
Dalam Islam, Kafarat (Denda) adalah mekanisme penebusan dosa atau kesalahan atas pelanggaran hukum Allah tertentu. Berbeda dengan zakat atau infak biasa, kafarat bersifat wajib sebagai bentuk pertobatan agar tanggungan spiritual kita terselesaikan dengan sempurna. Kafarat berasal dari kata Kafara yang berarti menutupi. Secara istilah, ini adalah amalan tertentu yang dilakukan untuk menghapus dosa atau menutupi kesalahan yang dilakukan secara sengaja, seperti melanggar sumpah, melakukan hubungan suami-istri di siang hari saat Ramadan, atau membunuh hewan buruan saat ihram. Lalu Bagaimana sih Niat Menunaikan Kafarat itu? Niat adalah inti dari setiap ibadah, dan berikut adalah beberapa contoh niat sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan: Kafarat Melanggar Sumpah (Kafaratul Yamin) Diberikan jika seseorang bersumpah atas nama Allah namun melanggarnya, bentuk niatnya seperti ini : Nawaitu an ukhrija hadzihil kaffarata ‘an naktsil yamini fardhan lillahi ta'ala. Artinya: “Aku niat mengeluarkan kafarat ini karena melanggar sumpah, fardu karena Allah Ta'ala.” Kafarat Hubungan Suami-Istri di Siang Hari Ramadan Jika tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turut, maka wajib memberi makan 60 orang miskin, atau dapat menunaikannya melalui Baznas Kota Yogyakarta. Nawaitu an ukhrija hadzihil kaffarata 'an jima'i nahari ramadhana fardhan lillahi ta'ala. Artinya: “Aku niat mengeluarkan kafarat ini atas hubungan badan di siang hari Ramadan, fardu karena Allah Ta'ala.” Kafarat Umum (Penebus Kesalahan) Jika ragu dengan lafal spesifik, Anda bisa menggunakan niat umum, seperti ini: “Saya niat menunaikan kafarat (sebutkan jenis kesalahannya) fardu karena Allah Ta'ala.” Yuk Simak Bagaimana Cara Menunaikan Kafarat di Baznas Kota Yogyakarta. Baznas Kota Yogyakarta memfasilitasi pengelolaan kafarat Anda untuk disalurkan kepada fakir miskin di wilayah Kota Jogja secara tepat sasaran. Jalur online (mudah & cepat), sangat praktis bagi Anda yang sibuk atau berada di luar wilayah Kabupaten Trenggalek: 1. Transfer Bank: Lakukan transfer ke rekening resmi BAZNAS Kabupaten Trenggalek : Konfirmasi: Kirimkan bukti transfer melalui WhatsApp ke nomor 0822-2821-9090. Layanan Website: Kunjungi kabtrenggalek.baznas.go.id/bayarzakat dan pilih kategori pembayaran Kafarat atau Fidyah. 2. Jalur Offline (Konsultasi Langsung), bagi Anda yang ingin berkonsultasi mengenai perhitungan nominal kafarat, dapat mengunjungi kantor kami yang berada di Lingkup Pendapa Manggala Praja Nugraha sisi selatan (Jalan Pemuda Nomor 01 Surodakan Trenggalek, 66316). Anda akan dibantu oleh petugas amil untuk menghitung jumlah yang harus dibayarkan sesuai syariat dan dibimbing dalam pembacaan niat/akad. Mengapa Harus Melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek? 1. Resmi & Amanah: Lembaga pemerintah non-struktural yang diakui negara. 2. Penyaluran Tepat: Memiliki data mustahik (penerima) yang akurat di wilayah Kabupaten Trenggalek. 3. Transparan: Laporan pengelolaan dana dapat diakses secara terbuka. Jangan tunda kewajiban kafarat Anda. Percayakan pelaksanaannya pada BAZNAS Kabupaten Trenggalek sebagai lembaga zakat resmi dan terpercaya yang siap memastikan kafarat Anda tersalurkan kepada mereka yang benar-benar berhak dan lebih merata. Mari tunaikan kewajiban kafarat dengan penuh keikhlasan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Trenggalek, agar ibadah kita semakin sempurna dan membawa keberkahan bagi banyak orang.
ARTIKEL26/03/2026 | Humas
10 Hari Terakhir Ramadan: Saatnya Memaksimalkan Ibadah
10 Hari Terakhir Ramadan: Saatnya Memaksimalkan Ibadah
Ramadan adalah bulan penuh keberkahan yang selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, serta mendekatkan hati kepada Allah SWT. Namun, di antara seluruh hari di bulan Ramadan, terdapat satu fase yang memiliki keutamaan sangat istimewa, yaitu 10 hari terakhir Ramadan. Pada masa inilah umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah secara maksimal, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat kuat dalam menyambut 10 hari terakhir Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah, membangunkan keluarganya, dan menghidupkan malam dengan berbagai amalan. Hal ini menunjukkan bahwa waktu tersebut adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Salah satu alasan utama mengapa 10 hari terakhir Ramadan begitu istimewa adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa, bahkan melebihi ibadah selama puluhan tahun. Karena waktu pastinya dirahasiakan, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh beribadah di setiap malam pada sepuluh hari terakhir. Ada banyak amalan yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan ibadah pada periode ini. Pertama, memperbanyak qiyamul lail atau salat malam. Salat tarawih yang dilanjutkan dengan salat tahajud dan witir menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memohon ampunan atas segala dosa yang telah lalu. Kedua, memperbanyak membaca Al-Qur’an. Ramadan sendiri dikenal sebagai bulan turunnya Al-Qur’an, sehingga membaca dan mentadabburinya menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mencari Lailatul Qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang berarti, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi pengingat bahwa di penghujung Ramadan, setiap Muslim seharusnya memohon ampunan dan berharap mendapatkan rahmat serta ridha Allah SWT. Amalan lainnya yang tidak kalah penting adalah bersedekah. Sedekah di bulan Ramadan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda, terlebih lagi jika dilakukan pada malam-malam terakhir. Banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak berbagi kepada fakir miskin, membantu sesama, dan menebar kebaikan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Sepuluh hari terakhir Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Setiap Muslim diajak untuk merenungkan perjalanan ibadah selama Ramadan: apakah sudah maksimal atau masih banyak kekurangan. Dengan melakukan evaluasi diri, seseorang dapat memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas ibadah sebelum Ramadan berakhir. Pada akhirnya, 10 hari terakhir Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memanfaatkan waktu yang tersisa ini dengan memperbanyak ibadah, memperkuat keimanan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Semoga dengan memaksimalkan ibadah di 10 hari terakhir Ramadan, kita semua termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan keberkahan, ampunan, serta kemuliaan Lailatul Qadar.
ARTIKEL16/03/2026 | Humas
Detik-Detik Terakhir Ramadan: Jangan Sampai Kita Menyesal
Detik-Detik Terakhir Ramadan: Jangan Sampai Kita Menyesal
Ramadan adalah bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan ini seakan datang begitu cepat, namun sering terasa berlalu lebih cepat lagi. Tanpa terasa, kini kita telah memasuki 10 hari terakhir Ramadan—fase penutup yang justru memiliki nilai paling istimewa. Inilah detik-detik terakhir Ramadan yang tidak boleh kita sia-siakan, karena di dalamnya tersimpan peluang besar untuk meraih pahala yang luar biasa. Sepuluh hari terakhir Ramadan dikenal sebagai waktu yang sangat mulia. Pada periode inilah terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Malam yang penuh kemuliaan ini menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bayangkan, satu malam ibadah pada malam tersebut nilainya setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Kesempatan seperti ini tentu tidak datang setiap saat. Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam memaksimalkan 10 hari terakhir Ramadan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau meningkatkan kesungguhan ibadahnya melebihi hari-hari sebelumnya. Beliau memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta membangunkan keluarganya untuk ikut menghidupkan malam dengan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa bagian akhir Ramadan adalah momentum puncak yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang justru mulai lengah ketika Ramadan hampir berakhir. Kesibukan mempersiapkan hari raya, berbelanja, atau berbagai aktivitas duniawi lainnya sering kali membuat fokus ibadah berkurang. Padahal, jika kita renungkan, belum tentu kita akan bertemu lagi dengan Ramadan di tahun berikutnya. Bisa jadi, Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk memperbaiki diri dan meraih ampunan Allah. Karena itu, sepuluh hari terakhir Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah. Memperbanyak shalat malam atau qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta bersedekah adalah beberapa amalan yang sangat dianjurkan. Selain itu, memperbanyak doa juga menjadi amalan penting, terutama doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca ketika mencari Lailatul Qadar: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang berarti, “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Di samping memperbanyak ibadah pribadi, 10 hari terakhir Ramadan juga menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama. Berbagi kepada mereka yang membutuhkan melalui sedekah, zakat, atau bantuan kemanusiaan adalah bentuk nyata dari nilai-nilai Ramadan. Selain membantu orang lain, amalan ini juga menjadi jalan bagi kita untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Pada akhirnya, 10 hari terakhir Ramadan adalah penentu dari perjalanan ibadah kita selama satu bulan penuh. Jika di awal Ramadan kita mungkin masih menyesuaikan diri, maka di akhir inilah saatnya kita berlari lebih cepat untuk mengejar keberkahan yang tersisa. Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita. Mari manfaatkan detik-detik terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya. Perbanyak ibadah, tingkatkan keikhlasan, dan perkuat hubungan dengan Allah SWT. Jangan sampai ketika Ramadan benar-benar pergi, yang tersisa hanyalah penyesalan karena kita tidak memanfaatkannya dengan maksimal. Sebab bagi orang-orang yang beriman, setiap detik Ramadan adalah kesempatan berharga untuk meraih ampunan dan keberkahan yang tidak ternilai.
ARTIKEL16/03/2026 | Humas
Wajib Tahu, Ini Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan yang Penting Dilakukan
Wajib Tahu, Ini Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan yang Penting Dilakukan
Amalan 10 hari terakhir Ramadhan menjadi momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Pada fase terakhir bulan suci ini, Allah SWT memberikan kesempatan yang begitu besar bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih pahala yang berlipat ganda. Tidak hanya itu, pada 10 malam terakhir Ramadhan juga terdapat malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Karena keutamaannya yang luar biasa, Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana memaksimalkan amalan 10 hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta meningkatkan ketakwaan. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Artikel ini akan membahas berbagai amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang penting dilakukan agar kita dapat meraih keberkahan dan pahala maksimal di penghujung bulan suci. Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan Sebelum membahas lebih jauh tentang amalan 10 hari terakhir Ramadhan, penting bagi kita untuk memahami keutamaan waktu yang sangat mulia ini. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan: “Apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Makna dari hadits tersebut menunjukkan bahwa 10 hari terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa untuk meningkatkan ibadah. Bahkan Rasulullah SAW memberikan teladan untuk lebih serius dalam beribadah dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hal ini karena pada waktu tersebut terdapat malam Lailatul Qadar yang disebut dalam Al-Qur’an: “Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3) Oleh karena itu, memperbanyak amalan 10 hari terakhir Ramadhan menjadi langkah penting bagi umat Islam untuk meraih pahala yang luar biasa. 1. Memperbanyak Qiyamul Lail (Shalat Malam) Salah satu amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak qiyamul lail atau shalat malam. Shalat malam yang dimaksud meliputi shalat tarawih, tahajud, dan witir. Pada sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW bahkan menghidupkan hampir seluruh malamnya dengan ibadah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya shalat malam sebagai bentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Dengan melaksanakan qiyamul lail secara rutin pada 10 hari terakhir Ramadhan, seorang muslim memiliki peluang besar untuk mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar. 2. I’tikaf di Masjid I’tikaf merupakan salah satu amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Tujuan dari i’tikaf adalah untuk menjauhkan diri dari kesibukan duniawi dan fokus sepenuhnya kepada ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta berdoa. Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Melalui i’tikaf, seorang muslim dapat lebih khusyuk menjalankan berbagai amalan 10 hari terakhir Ramadhan serta memperbesar peluang mendapatkan Lailatul Qadar. 3. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an merupakan amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang tidak boleh ditinggalkan. Ramadhan sendiri dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sehingga sangat dianjurkan untuk memperbanyak tilawah. Banyak ulama yang meningkatkan intensitas membaca Al-Qur’an pada sepuluh hari terakhir. Bahkan sebagian ulama mampu mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali dalam periode tersebut. Selain membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami dan merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur’an agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 4. Memperbanyak Dzikir dan Doa Memperbanyak dzikir dan doa juga termasuk amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat dianjurkan. Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika mencari malam Lailatul Qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.) Doa ini diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah RA ketika beliau bertanya tentang doa yang sebaiknya dibaca pada malam Lailatul Qadar. Dengan memperbanyak dzikir dan doa, hati akan menjadi lebih tenang dan semakin dekat kepada Allah SWT. 5. Memperbanyak Sedekah Sedekah juga termasuk amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat ketika bulan Ramadhan. Memberikan sedekah pada sepuluh hari terakhir memiliki nilai pahala yang sangat besar, terlebih jika dilakukan pada malam Lailatul Qadar. Sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti: Memberikan makanan untuk berbuka puasa Membantu fakir miskin Menyantuni anak yatim Berdonasi untuk kegiatan sosial dan keagamaan Dengan memperbanyak sedekah, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala tetapi juga membantu sesama yang membutuhkan. 6. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Ramadhan adalah bulan pengampunan. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar dan taubat merupakan amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang sangat penting. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk memohon ampun kepada Allah SWT agar dosa-dosa kita dihapuskan. Istighfar dapat dibaca kapan saja, baik setelah shalat, ketika beraktivitas, maupun saat berdoa di malam hari. 7. Menghidupkan Malam Lailatul Qadar Puncak dari amalan 10 hari terakhir Ramadhan adalah berusaha mendapatkan malam Lailatul Qadar. Malam ini diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Pada malam tersebut, pahala ibadah yang dilakukan lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan setiap malam pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan berbagai ibadah seperti: Shalat malam Membaca Al-Qur’an Berdzikir Berdoa Bersedekah Dengan begitu, peluang untuk mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar akan semakin besar. Amalan 10 hari terakhir Ramadhan merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan oleh setiap muslim. Pada waktu yang sangat mulia ini, Allah SWT membuka pintu rahmat, ampunan, dan pahala yang berlipat ganda. Beberapa amalan 10 hari terakhir Ramadhan yang penting dilakukan antara lain memperbanyak shalat malam, i’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa, bersedekah, memperbanyak istighfar, serta menghidupkan malam Lailatul Qadar. Dengan menjalankan berbagai amalan 10 hari terakhir Ramadhan secara konsisten dan penuh keikhlasan, kita berharap dapat meraih keberkahan, pengampunan dosa, serta menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan berakhir. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk memaksimalkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan dan mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar. Aamiin. Mari sempurnakan 10 hari terakhir Ramadhan dengan berzakat di BAZNAS.
ARTIKEL13/03/2026 | Humas
Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan: Kesempatan Emas untuk Meraih Ampunan Allah
Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan: Kesempatan Emas untuk Meraih Ampunan Allah
Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu waktu paling istimewa dalam kehidupan seorang Muslim. Pada bulan ini, Allah SWT memberikan berbagai keutamaan yang tidak diberikan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu kabar gembira yang sering disampaikan dalam berbagai hadits adalah bahwa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, sementara pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Keistimewaan ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri. Ramadhan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, umat Islam diberikan peluang yang sangat luas untuk meraih pahala, ampunan, dan keberkahan hidup. Artikel ini akan membahas makna dari Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, dalil-dalil yang menjelaskannya, serta amalan-amalan yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan kesempatan besar tersebut. Makna Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan Salah satu hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan menyebutkan bahwa ketika bulan suci ini tiba, Allah SWT membuka pintu surga dan menutup pintu neraka. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi dasar utama bahwa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan. Makna dari pernyataan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menunjukkan bahwa pada bulan ini Allah SWT memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk melakukan berbagai kebaikan. Para ulama menjelaskan bahwa dibukanya pintu surga berarti: Kesempatan beramal saleh menjadi lebih besar. Pahala dilipatgandakan oleh Allah SWT. Rahmat dan ampunan Allah terbuka luas bagi siapa saja yang bertaubat. Dengan kata lain, ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, seorang Muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Mengapa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan Ada beberapa hikmah mengapa Allah SWT membuka pintu surga pada bulan Ramadhan. Hal ini berkaitan dengan kemuliaan bulan tersebut serta berbagai ibadah yang dianjurkan di dalamnya. 1. Ramadhan Adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Karena kemuliaan Al-Qur’an diturunkan pada bulan ini, maka tidak mengherankan jika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan sebagai bentuk kemuliaan dan keberkahan yang Allah berikan kepada umat Islam. 2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan Pada bulan Ramadhan, setiap amal kebaikan memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Bahkan satu amal sunnah dapat bernilai seperti amal wajib. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, karena Allah memberikan kesempatan besar bagi hamba-Nya untuk mengumpulkan pahala sebanyak mungkin. 3. Setan Dibelenggu Dalam hadits disebutkan bahwa pada bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu. Ini berarti godaan untuk melakukan dosa menjadi lebih kecil dibandingkan bulan lainnya. Dengan berkurangnya godaan tersebut, umat Islam memiliki kesempatan lebih besar untuk berbuat baik. Inilah salah satu tanda bahwa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan. Amalan yang Membuka Jalan Menuju Surga di Bulan Ramadhan Ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai ibadah. Berikut beberapa amalan yang sangat dianjurkan. 1. Memperbanyak Puasa dengan Ikhlas Puasa Ramadhan merupakan ibadah utama pada bulan ini. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Puasa yang dilakukan dengan keimanan dan keikhlasan akan menjadi salah satu jalan menuju surga. 2. Menunaikan Shalat Tarawih Shalat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang hanya ada pada bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, shalat malam seperti Tarawih menjadi salah satu cara untuk meraih rahmat Allah SWT. 3. Membaca dan Mengkhatamkan Al-Qur’an Ramadhan sering disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Banyak ulama salaf yang mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali selama Ramadhan. Dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, seorang Muslim dapat merasakan kedekatan dengan Allah SWT sekaligus mengumpulkan pahala yang besar. 4. Bersedekah dan Berbagi kepada Sesama Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan. Sedekah yang diberikan pada bulan ini memiliki nilai pahala yang sangat besar. Hal ini juga menjadi salah satu cara memanfaatkan kesempatan ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan. 5. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Ramadhan adalah bulan ampunan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dengan bertaubat secara sungguh-sungguh, dosa-dosa yang telah lalu dapat dihapuskan, sehingga seorang Muslim menjadi lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah. Lailatul Qadar: Malam Istimewa Saat Pintu Surga Terbuka Salah satu keistimewaan terbesar Ramadhan adalah adanya malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT berfirman: “Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3) Pada malam ini, pahala ibadah dilipatgandakan secara luar biasa. Oleh karena itu, ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, Lailatul Qadar menjadi momen terbaik untuk memperbanyak doa, dzikir, dan ibadah. Rasulullah SAW bahkan meningkatkan ibadahnya secara maksimal pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mencari keberkahan malam tersebut. Jangan Sampai Kehilangan Kesempatan Ramadhan Meskipun Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, tidak semua orang mampu memanfaatkannya dengan baik. Banyak orang yang masih menyia-nyiakan waktu Ramadhan dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Rasulullah SAW bahkan pernah bersabda bahwa seseorang akan merugi jika ia melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini. Ramadhan bisa saja menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup kita, sehingga setiap detiknya harus dimanfaatkan untuk beribadah. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan keberkahan. Dalam bulan yang mulia ini, Allah SWT memberikan kesempatan luar biasa bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada-Nya. Salah satu kabar gembira yang disebutkan dalam hadits adalah bahwa Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan. Ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti puasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak istighfar. Semua amalan tersebut menjadi jalan menuju rahmat Allah SWT dan kesempatan untuk meraih surga-Nya. Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan Ramadhan sebaik mungkin. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ketika Pintu Surga Dibuka Lebar di Bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mendapatkan keberkahan di bulan suci ini. Mari sempurnakan Ramadhan dengan berzakat di BAZNAS.
ARTIKEL13/03/2026 | Humas
Menu Berbuka Puasa Sehat
Menu Berbuka Puasa Sehat
Menu Berbuka Puasa Sehat merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim ketika menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tubuh membutuhkan asupan makanan yang tepat agar energi kembali pulih tanpa memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Sering kali sebagian orang langsung mengonsumsi makanan berat atau makanan tinggi gula ketika waktu berbuka tiba. Padahal, pola berbuka seperti ini justru bisa membuat tubuh terasa lemas, mengantuk, bahkan memicu gangguan pencernaan. Oleh karena itu, memilih Menu Berbuka Puasa Sehat menjadi langkah penting agar ibadah puasa tetap berjalan dengan baik sekaligus menjaga kesehatan tubuh. Dalam Islam sendiri, berbuka puasa juga dianjurkan dengan cara yang sederhana dan tidak berlebihan. Rasulullah SAW memberikan contoh berbuka dengan makanan yang ringan dan bernutrisi. Hal ini menunjukkan bahwa konsep Menu Berbuka Puasa Sehat sebenarnya sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah SAW. Dengan memilih makanan yang sehat, bergizi, dan seimbang, tubuh akan lebih siap menjalani ibadah di malam hari seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga aktivitas lainnya selama bulan Ramadhan. Sunnah Berbuka Puasa dalam Islam Dalam ajaran Islam, berbuka puasa dianjurkan untuk dilakukan segera setelah waktu maghrib tiba. Rasulullah SAW mencontohkan berbuka dengan makanan yang sederhana namun penuh manfaat. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa butir kurma segar sebelum shalat. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, beliau meminum beberapa teguk air.”(HR. Abu Dawud) Kebiasaan ini sangat selaras dengan konsep Menu Berbuka Puasa Sehat yang menekankan keseimbangan nutrisi sekaligus tidak memberatkan sistem pencernaan setelah seharian berpuasa. Kurma sendiri mengandung gula alami yang dapat dengan cepat mengembalikan energi tubuh. Selain itu, air putih membantu menghidrasi tubuh yang kehilangan cairan selama berpuasa. Prinsip Dasar Menyusun Menu Berbuka Puasa Sehat Agar tubuh tetap sehat dan kuat selama menjalankan ibadah puasa, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun Menu Berbuka Puasa Sehat. 1. Mengawali dengan Makanan Ringan Ketika berbuka puasa, sebaiknya tidak langsung mengonsumsi makanan berat. Sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk kembali bekerja setelah beristirahat selama lebih dari 12 jam. Beberapa makanan ringan yang cocok sebagai Menu Berbuka Puasa Sehat antara lain: Kurma Buah segar Air putih Sup hangat Kolak dengan gula secukupnya Makanan ringan ini membantu tubuh beradaptasi kembali sebelum menerima makanan utama. 2. Memperbanyak Konsumsi Buah dan Sayur Buah dan sayur sangat penting dalam Menu Berbuka Puasa Sehat karena mengandung vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh. Beberapa buah yang baik untuk berbuka puasa antara lain: Kurma Semangka Melon Pepaya Pisang Buah-buahan ini membantu mengembalikan cairan tubuh serta memperlancar pencernaan. Sayuran juga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi, terutama dalam hidangan utama seperti sayur sop, tumis sayur, atau lalapan. 3. Mengonsumsi Protein yang Cukup Protein sangat penting untuk membantu memperbaiki jaringan tubuh serta menjaga energi selama berpuasa. Sumber protein yang dapat dimasukkan dalam Menu Berbuka Puasa Sehat antara lain: Ayam Ikan Telur Tahu Tempe Kacang-kacangan Protein juga membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga tubuh tidak mudah lapar setelah berbuka. 4. Mengurangi Makanan Berminyak dan Gorengan Gorengan memang menjadi makanan favorit saat berbuka puasa. Namun, terlalu banyak mengonsumsi gorengan justru dapat mengganggu kesehatan. Makanan berminyak bisa menyebabkan: Gangguan pencernaan Perut terasa begah Kolesterol meningkat Tubuh menjadi mudah lemas Oleh karena itu, dalam menyusun Menu Berbuka Puasa Sehat, sebaiknya konsumsi gorengan dibatasi dan diganti dengan makanan yang lebih sehat seperti makanan kukus, rebus, atau panggang. 5. Menghindari Konsumsi Gula Berlebihan Minuman manis memang terasa menyegarkan setelah seharian berpuasa. Namun, konsumsi gula berlebihan justru dapat membuat tubuh cepat lelah. Lonjakan gula darah yang tinggi akan diikuti dengan penurunan energi yang drastis. Akibatnya, tubuh menjadi mengantuk dan kurang bertenaga. Sebagai alternatif Menu Berbuka Puasa Sehat, pilihlah minuman seperti: Air putih Air kelapa Jus buah tanpa gula tambahan Infused water Minuman tersebut lebih sehat dan membantu tubuh tetap terhidrasi. Contoh Menu Berbuka Puasa Sehat Agar lebih mudah diterapkan, berikut beberapa contoh Menu Berbuka Puasa Sehat yang bisa menjadi inspirasi saat bulan Ramadhan. Menu 1 Takjil: 3 butir kurma Air putih hangat Menu utama: Nasi merah Ikan panggang Sayur sop Lalapan timun dan selada Minuman: Jus melon tanpa gula Menu 2 Takjil: Potongan buah semangka dan pepaya Air kelapa muda Menu utama: Nasi putih secukupnya Ayam panggang Tumis brokoli dan wortel Minuman: Air putih Menu 3 Takjil: Kurma Sup buah tanpa sirup berlebihan Menu utama: Nasi merah Tempe dan tahu panggang Sayur bayam Minuman: Infused water lemon Dengan memilih variasi Menu Berbuka Puasa Sehat, tubuh akan mendapatkan nutrisi yang cukup sekaligus menjaga energi selama menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Manfaat Mengonsumsi Menu Berbuka Puasa Sehat Ada banyak manfaat yang bisa dirasakan jika seseorang rutin mengonsumsi Menu Berbuka Puasa Sehat selama bulan Ramadhan. 1. Menjaga Energi Tubuh Makanan bergizi membantu tubuh mengembalikan energi setelah berpuasa sehingga aktivitas ibadah dapat dilakukan dengan maksimal. 2. Menjaga Sistem Pencernaan Makanan sehat yang kaya serat membantu sistem pencernaan bekerja dengan baik serta mencegah sembelit. 3. Mengontrol Berat Badan Mengonsumsi Menu Berbuka Puasa Sehat juga membantu menjaga berat badan agar tetap stabil selama Ramadhan. 4. Meningkatkan Kualitas Ibadah Tubuh yang sehat membuat seseorang lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbagai amalan lainnya. Tips Agar Konsisten Menjalani Menu Berbuka Puasa Sehat Agar pola makan sehat tetap terjaga selama Ramadhan, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan: Membuat rencana menu harian Menyediakan bahan makanan sehat di rumah Mengurangi membeli makanan cepat saji Mengatur porsi makan dengan baik Mengutamakan makanan alami dibanding makanan olahan Dengan langkah sederhana ini, menerapkan Menu Berbuka Puasa Sehat akan menjadi kebiasaan yang baik selama bulan Ramadhan. Menjalankan ibadah puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh agar tetap kuat dalam menjalankan berbagai amalan. Oleh karena itu, memilih Menu Berbuka Puasa Sehat menjadi hal yang sangat penting bagi setiap muslim. Dengan mengonsumsi makanan yang seimbang, bergizi, dan tidak berlebihan, tubuh akan tetap bugar selama menjalani ibadah puasa. Selain itu, pola makan yang sehat juga membantu meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadhan. Semoga dengan menerapkan Menu Berbuka Puasa Sehat, kita dapat menjalani puasa dengan lebih baik, lebih sehat, dan lebih penuh keberkahan.
ARTIKEL13/03/2026 | Humas
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Bolehkah Zakat Fitrah Dibayar dengan Uang, Ini Penjelasannya
Menjelang akhir bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan kewajiban zakat fitrah. Zakat ini menjadi penyempurna ibadah puasa sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada fakir miskin agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya Idulfitri. Namun di tengah perkembangan zaman dan perubahan sistem ekonomi masyarakat, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan dalam Islam? Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi membayar zakat fitrah dengan bahan makanan pokok seperti beras atau gandum. Namun di sisi lain, banyak pula yang memilih menunaikan zakat fitrah dengan uang karena dianggap lebih praktis dan memudahkan penerima zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam memahami hukum dan penjelasan ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang agar pelaksanaan ibadah ini tetap sesuai dengan syariat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum zakat fitrah dibayar uang, pandangan para ulama, dalil yang digunakan, serta bagaimana praktiknya di masyarakat saat ini. Pengertian Zakat Fitrah Sebelum membahas apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang mampu pada bulan Ramadhan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan yang kurang baik, serta membantu kaum fakir miskin. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Besaran zakat fitrah yang dikeluarkan adalah satu sha’ bahan makanan pokok. Dalam konteks Indonesia, hal ini biasanya setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras. Namun seiring perkembangan sistem ekonomi modern, muncul pertanyaan baru mengenai apakah zakat fitrah dibayar uang dapat menggantikan bahan makanan tersebut. Dalil Zakat Fitrah dalam Islam Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok. Ibnu Umar RA meriwayatkan: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap muslim, baik budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini sering dijadikan dasar oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dibayarkan dalam bentuk makanan pokok. Namun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait apakah zakat fitrah dibayar uang diperbolehkan atau tidak. Pandangan Ulama Tentang Zakat Fitrah Dibayar Uang Perbedaan pendapat ulama mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah terjadi sejak masa klasik. Berikut beberapa pandangan dari mazhab-mazhab fikih dalam Islam. 1. Pendapat Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi memperbolehkan zakat fitrah dibayar uang. Mereka berpendapat bahwa tujuan utama zakat fitrah adalah membantu fakir miskin dan memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya. Menurut pandangan ini, uang justru seringkali lebih bermanfaat bagi penerima zakat karena mereka dapat membeli kebutuhan yang lebih mendesak sesuai kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafi, membayar zakat fitrah dengan uang dianggap sah selama nilainya setara dengan makanan pokok yang seharusnya dikeluarkan. 2. Pendapat Mazhab Syafi’i Mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia berpendapat bahwa zakat fitrah sebaiknya dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok, bukan uang. Menurut ulama Syafi’iyah, karena Rasulullah SAW secara jelas menyebutkan zakat fitrah dalam bentuk makanan, maka hal tersebut sebaiknya tetap dipertahankan. Meski demikian, dalam praktik modern, sebagian ulama Syafi’i kontemporer memberikan kelonggaran jika zakat fitrah dibayar uang melalui lembaga zakat yang kemudian menyalurkannya dalam bentuk makanan pokok kepada mustahik. 3. Pendapat Mazhab Maliki dan Hanbali Mazhab Maliki dan Hanbali pada dasarnya juga lebih menganjurkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Namun dalam kondisi tertentu, beberapa ulama dari mazhab ini juga membolehkan zakat fitrah dibayar uang jika dianggap lebih membawa maslahat bagi penerima zakat. Misalnya dalam kondisi masyarakat perkotaan di mana distribusi makanan pokok lebih rumit dibandingkan uang. Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah Untuk memahami apakah zakat fitrah dibayar uang dapat diterima dalam Islam, kita juga perlu melihat hikmah di balik kewajiban zakat fitrah. Beberapa tujuan zakat fitrah antara lain: 1. Membersihkan Jiwa Orang yang Berpuasa Zakat fitrah menjadi sarana penyucian diri dari kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan ibadah puasa. 2. Membantu Kaum Fakir Miskin Tujuan utama zakat fitrah adalah membantu kaum yang membutuhkan agar mereka juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya. Dalam konteks ini, sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah dibayar uang justru dapat lebih membantu karena penerima dapat menggunakan uang tersebut untuk berbagai kebutuhan. 3. Menciptakan Kepedulian Sosial Zakat fitrah juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial antar sesama muslim. Dengan adanya zakat fitrah, kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat sedikit berkurang, terutama menjelang Idulfitri. Praktik Zakat Fitrah Dibayar Uang di Indonesia Di Indonesia, praktik zakat fitrah dibayar uang semakin banyak dilakukan, terutama melalui lembaga zakat resmi. Lembaga zakat biasanya menentukan nilai zakat fitrah berdasarkan harga beras yang berlaku di wilayah tertentu. Nilai tersebut kemudian dibayarkan oleh muzakki dalam bentuk uang. Setelah terkumpul, dana zakat fitrah tersebut biasanya akan digunakan untuk membeli beras atau bahan makanan pokok yang kemudian disalurkan kepada mustahik. Cara ini dianggap sebagai solusi yang tetap menjaga prinsip syariat sekaligus memudahkan proses distribusi zakat. Waktu Membayar Zakat Fitrah Baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, waktu pembayarannya tetap mengikuti ketentuan syariat. Beberapa waktu penting dalam membayar zakat fitrah antara lain: Waktu wajib: Sejak terbenam matahari pada malam Idulfitri. Waktu sunnah: Setelah salat Subuh sebelum salat Idulfitri. Waktu boleh: Sejak awal bulan Ramadhan. Waktu makruh: Setelah salat Idulfitri. Waktu haram: Jika sengaja menunda hingga setelah hari raya tanpa alasan. Karena itu, umat Islam dianjurkan menunaikan zakat fitrah tepat waktu agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para penerima sebelum hari raya tiba. Cara Menentukan Nilai Zakat Fitrah Jika Dibayar dengan Uang Jika seseorang memilih zakat fitrah dibayar uang, maka nilai yang dibayarkan harus setara dengan harga makanan pokok yang menjadi standar zakat fitrah. Di Indonesia, biasanya nilai ini dihitung berdasarkan harga 2,5 hingga 3 kilogram beras. Misalnya jika harga beras Rp15.000 per kilogram, maka nilai zakat fitrah yang dibayarkan sekitar Rp37.500 hingga Rp45.000 per orang. Namun angka ini dapat berbeda-beda tergantung wilayah dan keputusan lembaga zakat setempat. Perdebatan mengenai zakat fitrah dibayar uang sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dalam tradisi fikih Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Namun ada pula ulama yang membolehkan zakat fitrah dibayar uang, terutama jika hal tersebut lebih bermanfaat bagi penerima zakat dan memudahkan proses distribusi. Di Indonesia sendiri, kedua praktik ini masih berjalan berdampingan. Banyak masyarakat yang tetap membayar zakat fitrah dengan beras, sementara sebagian lainnya memilih menunaikannya dalam bentuk uang melalui lembaga zakat resmi. Yang terpenting adalah memastikan bahwa zakat fitrah ditunaikan tepat waktu, sesuai ketentuan syariat, dan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya. Dengan demikian, baik dalam bentuk makanan maupun jika zakat fitrah dibayar uang, tujuan utama zakat fitrah yaitu membantu fakir miskin dan menyempurnakan ibadah puasa tetap dapat tercapai. Setelah memahami ketentuan zakat fitrah, yang terpenting adalah memastikan kewajiban tersebut benar-benar tertunaikan sebelum Idul Fitri. Jika Anda ingin menunaikan zakat fitrah dengan mudah dan tepat sasaran, salurkan melalui BAZNAS agar zakat Anda dapat menjangkau para mustahik.
ARTIKEL12/03/2026 | Humas
Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail
Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan yang penuh keberkahan ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Ramadhan adalah Qiyamul Lail. Amalan ini menjadi salah satu bentuk ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa, terutama ketika dilakukan di malam-malam Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan. Secara sederhana, Qiyamul Lail berarti menghidupkan malam dengan berbagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan berbagai amalan kebaikan lainnya. Dalam konteks Ramadhan, Qiyamul Lail sering kali diwujudkan melalui pelaksanaan shalat tarawih, tahajud, witir, serta memperbanyak ibadah hingga menjelang waktu sahur. Bagi seorang muslim, menjalankan Qiyamul Lail bukan hanya sekadar rutinitas ibadah malam. Lebih dari itu, Qiyamul Lail merupakan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail menjadi amalan yang sangat dianjurkan dan penuh dengan keutamaan. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang pentingnya Qiyamul Lail, keutamaannya dalam Islam, serta bagaimana cara menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail secara optimal agar mendapatkan keberkahan yang maksimal. Pengertian dan Makna Qiyamul Lail dalam Islam Dalam ajaran Islam, Qiyamul Lail memiliki makna yang sangat dalam. Secara bahasa, Qiyamul Lail berarti berdiri pada malam hari untuk beribadah kepada Allah SWT. Amalan Qiyamul Lail tidak hanya terbatas pada shalat malam saja, tetapi juga mencakup berbagai ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan merenungi kebesaran Allah SWT. Banyak ulama menjelaskan bahwa Qiyamul Lail adalah salah satu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Hal ini karena Qiyamul Lail dilakukan ketika sebagian besar manusia sedang terlelap dalam tidur. Ketika seorang muslim bangun dari tidurnya untuk melaksanakan Qiyamul Lail, hal tersebut menunjukkan kesungguhan hati dalam beribadah dan keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam praktiknya, Qiyamul Lail dapat dilakukan dengan berbagai bentuk ibadah, mulai dari shalat tahajud, shalat witir, hingga memperbanyak doa dan membaca Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, Qiyamul Lail juga sering diwujudkan melalui shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah bersama keluarga. Selain itu, Qiyamul Lail juga memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena dilakukan pada waktu yang penuh ketenangan. Pada saat malam hari, suasana menjadi lebih hening sehingga seorang muslim dapat lebih khusyuk dalam menjalankan Qiyamul Lail dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Oleh karena itu, memahami makna dan hakikat Qiyamul Lail sangat penting bagi setiap muslim agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Keutamaan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan Salah satu alasan mengapa Qiyamul Lail sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah karena besarnya pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa Qiyamul Lail di bulan Ramadhan dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak Qiyamul Lail selama bulan Ramadhan. Bahkan beliau memberikan teladan dengan menghidupkan malam-malam Ramadhan melalui berbagai bentuk ibadah, termasuk shalat malam yang panjang dan penuh kekhusyukan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Qiyamul Lail dalam kehidupan seorang muslim. Selain mendapatkan pahala yang besar, Qiyamul Lail juga menjadi sarana untuk mendapatkan malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar. Malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, dan salah satu cara terbaik untuk meraihnya adalah dengan memperbanyak Qiyamul Lail di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Keutamaan lain dari Qiyamul Lail adalah sebagai bentuk latihan spiritual bagi seorang muslim. Dengan membiasakan diri bangun di malam hari untuk melakukan Qiyamul Lail, seseorang akan memiliki kedisiplinan dalam beribadah serta hati yang lebih lembut dan dekat dengan Allah SWT. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak ulama dan orang-orang saleh sangat menjaga amalan Qiyamul Lail, terutama di bulan Ramadhan. Mereka memahami bahwa kesempatan untuk mendapatkan pahala besar melalui Qiyamul Lail adalah karunia yang tidak boleh disia-siakan. Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail Menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sederhana namun penuh makna. Salah satu bentuk paling umum dari Qiyamul Lail adalah melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid. Shalat ini menjadi salah satu ciri khas ibadah Ramadhan yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Selain shalat tarawih, seorang muslim juga dapat melanjutkan Qiyamul Lail dengan melaksanakan shalat tahajud di sepertiga malam terakhir. Waktu tersebut merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, sehingga Qiyamul Lail pada saat itu menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memohon ampunan dan rahmat dari Allah SWT. Membaca Al-Qur’an juga merupakan bagian penting dari Qiyamul Lail. Banyak umat Islam memanfaatkan malam Ramadhan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an karena bulan ini merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dengan membaca dan merenungi makna ayat-ayat suci tersebut, Qiyamul Lail menjadi semakin bermakna dan mendalam. Selain itu, memperbanyak dzikir dan doa juga dapat menjadi bagian dari Qiyamul Lail. Dengan berdzikir kepada Allah SWT dan memanjatkan doa-doa terbaik, seorang muslim dapat menjadikan malam Ramadhan sebagai waktu yang penuh dengan kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta. Yang tidak kalah penting, Qiyamul Lail sebaiknya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan hati. Tidak perlu memaksakan diri melakukan ibadah yang terlalu berat, tetapi lakukanlah Qiyamul Lail secara konsisten agar ibadah tersebut dapat membawa keberkahan dan ketenangan dalam kehidupan. Hikmah dan Manfaat Qiyamul Lail bagi Kehidupan Seorang Muslim Melaksanakan Qiyamul Lail secara rutin, terutama di bulan Ramadhan, memiliki banyak hikmah dan manfaat bagi kehidupan seorang muslim. Salah satu manfaat terbesar dari Qiyamul Lail adalah meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT. Ketika seseorang meluangkan waktu di malam hari untuk beribadah, ia menunjukkan kecintaan dan ketaatan yang tulus kepada Tuhannya. Selain itu, Qiyamul Lail juga dapat memberikan ketenangan batin dan kedamaian hati. Dalam kesunyian malam, seorang muslim dapat mencurahkan segala doa dan harapannya kepada Allah SWT melalui Qiyamul Lail, sehingga hati menjadi lebih tenang dan penuh harapan. Manfaat lain dari Qiyamul Lail adalah sebagai sarana untuk memperbaiki diri. Ketika seseorang merenungi kehidupan dan memohon ampunan kepada Allah SWT melalui Qiyamul Lail, ia akan lebih mudah menyadari kesalahan dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan dari sisi kesehatan, Qiyamul Lail juga memiliki manfaat tersendiri. Bangun di malam hari untuk beribadah dapat melatih kedisiplinan dan membantu mengatur pola hidup yang lebih sehat. Namun tentu saja, tujuan utama dari Qiyamul Lail tetaplah untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Dengan berbagai hikmah tersebut, tidak mengherankan jika Qiyamul Lail menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama selama bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Menghidupkan malam Ramadhan dengan Qiyamul Lail merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Melalui Qiyamul Lail, seorang muslim dapat memanfaatkan waktu malam yang penuh ketenangan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan. Keutamaan Qiyamul Lail sangat besar, terutama di bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Dengan melaksanakan Qiyamul Lail secara konsisten, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga merasakan kedamaian spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak Qiyamul Lail. Semoga dengan menghidupkan malam Ramadhan melalui Qiyamul Lail, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT. Kekuatan ibadah malam akan semakin sempurna jika dibarengi dengan kedermawanan di siang hari. Sebagaimana Rasulullah yang semakin dermawan di bulan Ramadhan, mari kita hiasi malam-malam penuh cahaya ini dengan semangat berbagi. Salurkan sedekah terbaik Anda sekarang juga, melalui BAZNAS.
ARTIKEL12/03/2026 | Humas
Apa yang Terjadi Jika Terlambat Membayar Zakat Fitrah
Apa yang Terjadi Jika Terlambat Membayar Zakat Fitrah
Terlambat bayar zakat merupakan persoalan yang sering terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Banyak umat Islam yang menunda pembayaran zakat fitrah hingga mendekati waktu salat Id atau bahkan setelahnya. Padahal dalam ajaran Islam, zakat fitrah memiliki waktu pelaksanaan yang jelas dan dianjurkan untuk ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, yang dikeluarkan pada bulan Ramadan hingga sebelum salat Idulfitri. Zakat ini bertujuan untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa sekaligus membantu fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Masalah terlambat bayar zakat sering muncul karena berbagai alasan, seperti kesibukan, lupa, atau kurang memahami ketentuan waktu pembayaran zakat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui apa saja konsekuensi jika zakat fitrah tidak dibayarkan tepat waktu. Dalam Islam, zakat bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga ibadah yang memiliki aturan waktu tertentu. Dengan memahami hukum dan ketentuannya, umat Islam dapat menjalankan kewajiban ini dengan lebih baik dan mendapatkan pahala yang sempurna. Waktu-Waktu Pembayaran Zakat Fitrah dalam Islam Untuk memahami masalah terlambat bayar zakat, terlebih dahulu kita perlu mengetahui waktu-waktu yang berkaitan dengan pembayaran zakat fitrah menurut para ulama. Secara umum, waktu pembayaran zakat fitrah dibagi menjadi beberapa kategori berikut: 1. Waktu Boleh Waktu boleh adalah sejak awal bulan Ramadan hingga menjelang hari raya. Pada masa ini, umat Islam sudah diperbolehkan untuk menunaikan zakat fitrah. Banyak lembaga zakat modern menganjurkan pembayaran lebih awal agar penyaluran kepada mustahik dapat dilakukan secara optimal sebelum hari raya. 2. Waktu Utama (Afdhal) Waktu terbaik untuk menunaikan zakat fitrah adalah pada malam Idulfitri hingga sebelum pelaksanaan salat Id. Inilah waktu yang paling dianjurkan oleh para ulama karena zakat fitrah dapat langsung dimanfaatkan oleh para penerima untuk kebutuhan hari raya. 3. Waktu Makruh Waktu makruh adalah ketika zakat fitrah dibayarkan setelah salat Idulfitri namun masih pada hari raya. Dalam kondisi ini, seseorang dianggap terlambat bayar zakat, tetapi kewajibannya masih tetap harus ditunaikan. 4. Waktu Haram Jika zakat fitrah dibayarkan setelah hari raya Idulfitri tanpa alasan yang dibenarkan, maka hal tersebut termasuk terlambat bayar zakat yang berdosa karena melewati waktu yang telah ditentukan. Namun kewajiban zakat tetap harus dibayarkan meskipun waktunya telah terlewat. Apa yang Terjadi Jika Terlambat Bayar Zakat Fitrah? Dalam pembahasan fikih Islam, terlambat bayar zakat memiliki konsekuensi tertentu. Meskipun zakat tetap sah jika dibayarkan setelah waktu yang dianjurkan, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami. 1. Kehilangan Keutamaan Zakat Fitrah Ketika seseorang terlambat bayar zakat, ia kehilangan keutamaan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka zakatnya diterima sebagai zakat. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan bahwa waktu memiliki pengaruh besar terhadap nilai ibadah zakat fitrah. 2. Berubah Menjadi Sedekah Biasa Jika seseorang terlambat bayar zakat hingga setelah salat Idulfitri, maka secara hukum ibadah tersebut tidak lagi dianggap sebagai zakat fitrah yang sempurna, melainkan sebagai sedekah biasa. Walaupun tetap mendapatkan pahala sedekah, keutamaan zakat fitrah yang memiliki fungsi sosial khusus menjadi berkurang. 3. Tetap Wajib Dibayarkan Meskipun terlambat bayar zakat, kewajiban zakat tidak gugur. Seseorang tetap harus menunaikan zakat fitrah yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sejalan dengan kaidah fikih bahwa kewajiban yang tertunda tetap harus dilaksanakan meskipun waktunya telah lewat. 4. Mendapatkan Dosa Jika Sengaja Menunda Apabila seseorang dengan sengaja terlambat bayar zakat tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia dapat berdosa karena menunda kewajiban yang sudah jelas waktunya. Namun jika keterlambatan terjadi karena lupa, tidak tahu, atau ada kondisi darurat, maka Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui niat hamba-Nya. Hikmah Penetapan Waktu Zakat Fitrah Islam menetapkan waktu tertentu untuk zakat fitrah bukan tanpa alasan. Ada banyak hikmah di balik ketentuan tersebut. Pertama, zakat fitrah bertujuan untuk membantu fakir miskin agar dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Jika terjadi terlambat bayar zakat, maka manfaat zakat tersebut tidak bisa dirasakan tepat waktu oleh mereka yang membutuhkan. Kedua, pembayaran zakat sebelum salat Id juga mengajarkan umat Islam untuk disiplin dalam menjalankan kewajiban agama. Ketiga, zakat fitrah menjadi bentuk penyucian jiwa setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Karena itulah para ulama sangat menekankan agar umat Islam tidak menunda-nunda kewajiban ini hingga terjadi terlambat bayar zakat. Cara Menghindari Terlambat Bayar Zakat Agar tidak mengalami terlambat bayar zakat, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Membayar Zakat Lebih Awal Salah satu cara terbaik adalah menunaikan zakat sejak awal Ramadan melalui masjid atau lembaga zakat terpercaya. Dengan membayar lebih awal, risiko lupa atau terlambat dapat dihindari. 2. Membuat Pengingat Pribadi Di era digital saat ini, umat Islam dapat memanfaatkan pengingat di ponsel atau kalender untuk menghindari terlambat bayar zakat. Langkah sederhana ini dapat membantu memastikan kewajiban ibadah tidak terlewat. 3. Menyalurkan Melalui Lembaga Zakat Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi juga dapat membantu menghindari terlambat bayar zakat, karena lembaga tersebut biasanya memiliki sistem pengelolaan dan distribusi yang terorganisir. Selain itu, penyaluran zakat juga menjadi lebih tepat sasaran kepada para mustahik yang berhak menerima. 4. Memahami Ilmu Zakat Banyak kasus terlambat bayar zakat terjadi karena kurangnya pemahaman tentang hukum dan waktu pembayaran zakat. Oleh karena itu, mempelajari ilmu zakat menjadi hal yang penting agar ibadah ini dapat dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Masalah terlambat bayar zakat merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh setiap Muslim, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri. Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai waktu pembayaran zakat fitrah agar ibadah tersebut dapat memberikan manfaat maksimal bagi penerima dan menjadi penyempurna ibadah puasa bagi yang menunaikannya. Jika seseorang terlambat bayar zakat, maka zakat tersebut tetap wajib dibayarkan, namun ia kehilangan sebagian keutamaan yang seharusnya diperoleh apabila zakat ditunaikan sebelum salat Idulfitri. Bahkan dalam beberapa kondisi, keterlambatan tersebut dapat menyebabkan zakat hanya bernilai sebagai sedekah biasa. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda kewajiban ini. Dengan membayar zakat fitrah tepat waktu, seorang Muslim tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membantu saudara-saudara yang membutuhkan agar dapat merayakan hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dapat menunaikan zakat tepat waktu dan terhindar dari terlambat bayar zakat, sehingga ibadah Ramadan kita menjadi lebih sempurna di sisi Allah SWT. Agar zakat fitrah benar-benar menjadi penyempurna puasa, sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idu. Fitri. Jangan menunggu hingga waktu semakin sempit. Segera tunaikan zakat fitrah Anda melalui BAZNAS agar penyalurannya tepat waktu dan dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan menyambut hari raya dengan penuh kebahagiaan.
ARTIKEL12/03/2026 | Humas
Apakah Bayi yang Baru Lahir Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya
Apakah Bayi yang Baru Lahir Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya
Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam yang harus ditunaikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Kewajiban ini bertujuan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan sekaligus membantu kaum fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Namun, di tengah masyarakat sering muncul pertanyaan: apakah bayi baru lahir berzakat atau wajib dibayarkan zakat fitrah oleh orang tuanya? Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat cukup sering muncul terutama ketika seorang bayi lahir di bulan Ramadan atau bahkan beberapa jam sebelum Hari Raya Idulfitri. Banyak orang tua yang bingung apakah bayi tersebut sudah termasuk dalam golongan yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya atau tidak. Dalam Islam, ketentuan zakat fitrah memiliki aturan yang jelas mengenai siapa saja yang wajib menunaikannya. Oleh karena itu, memahami hukum bayi baru lahir berzakat penting agar umat Islam dapat menjalankan kewajiban ini dengan benar sesuai tuntunan syariat. Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang hukum bayi baru lahir berzakat, waktu kelahiran yang menentukan kewajiban zakat fitrah, serta penjelasan para ulama mengenai hal tersebut. Pengertian Zakat Fitrah dan Tujuannya Sebelum membahas lebih jauh tentang bayi baru lahir berzakat, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim menjelang Idulfitri setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Zakat ini biasanya berupa makanan pokok seperti beras atau bahan pangan lain yang menjadi makanan utama masyarakat setempat. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap Muslim, baik budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa zakat fitrah tidak hanya diwajibkan bagi orang dewasa, tetapi juga anak kecil. Dari sinilah muncul pembahasan mengenai bayi baru lahir berzakat, apakah termasuk anak kecil yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Tujuan zakat fitrah sendiri antara lain: Menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan dosa kecil. Membantu kaum fakir miskin agar dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Menumbuhkan kepedulian sosial dalam masyarakat Muslim. Apakah Bayi Baru Lahir Berzakat? Ini Penjelasan Hukumnya Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat sebenarnya berkaitan erat dengan waktu kelahiran bayi tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang masih hidup saat matahari terbenam pada malam Idulfitri (malam 1 Syawal). Artinya, hukum bayi baru lahir berzakat bergantung pada kapan bayi tersebut dilahirkan. 1. Bayi Lahir Sebelum Matahari Terbenam di Akhir Ramadan Jika bayi lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan, maka bayi tersebut termasuk orang yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Dengan kata lain, bayi baru lahir berzakat dalam kondisi ini karena ia sudah dianggap hidup ketika waktu wajib zakat fitrah tiba. Orang tua atau wali bayi tersebut berkewajiban membayarkan zakat fitrahnya. 2. Bayi Lahir Setelah Matahari Terbenam di Malam Idulfitri Sebaliknya, jika bayi lahir setelah matahari terbenam pada malam Idulfitri, maka bayi tersebut tidak wajib dibayarkan zakat fitrahnya pada tahun tersebut. Dalam kondisi ini, hukum bayi baru lahir berzakat tidak berlaku karena bayi tersebut lahir setelah waktu kewajiban zakat fitrah. Namun, jika orang tua tetap ingin mengeluarkan zakat atau sedekah atas nama bayi tersebut, hal itu diperbolehkan dan termasuk amalan baik. Siapa yang Membayarkan Zakat Fitrah Bayi? Dalam pembahasan bayi baru lahir berzakat, perlu diketahui bahwa bayi tentu belum memiliki kemampuan untuk mengeluarkan zakat sendiri. Oleh karena itu, kewajiban membayar zakat fitrah bayi berada pada orang yang menanggung nafkahnya, biasanya ayah atau wali keluarga. Jika seorang bayi lahir sebelum waktu wajib zakat fitrah, maka ayahnya wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk: dirinya sendiri istrinya anak-anaknya termasuk bayi yang baru lahir Hal ini sesuai dengan kaidah bahwa kepala keluarga bertanggung jawab menunaikan zakat fitrah bagi anggota keluarganya. Pendapat Para Ulama tentang Bayi Baru Lahir Berzakat Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa bayi baru lahir berzakat jika lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan. Mazhab Syafi’i Dalam mazhab Syafi’i dijelaskan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang hidup saat matahari terbenam pada akhir Ramadan. Artinya, bayi yang lahir sebelum waktu tersebut wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi juga memiliki pendapat yang hampir sama. Mereka menyatakan bahwa zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim yang hidup pada waktu kewajiban zakat. Mazhab Maliki dan Hanbali Kedua mazhab ini juga menyatakan bahwa bayi yang lahir sebelum terbenam matahari di akhir Ramadan termasuk yang wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Dari kesepakatan ini dapat disimpulkan bahwa hukum bayi baru lahir berzakat memiliki landasan kuat dalam fikih Islam. Apakah Bayi dalam Kandungan Wajib Dizakati? Selain pertanyaan tentang bayi baru lahir berzakat, sering juga muncul pertanyaan mengenai bayi yang masih berada dalam kandungan. Mayoritas ulama menyatakan bahwa bayi dalam kandungan tidak wajib dibayarkan zakat fitrah. Namun, sebagian ulama menganjurkan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi janin sebagai bentuk kesunnahan. Riwayat dari sahabat Nabi, yaitu Utsman bin Affan RA, menyebutkan bahwa beliau pernah mengeluarkan zakat fitrah untuk bayi yang masih dalam kandungan. Meskipun demikian, praktik ini bersifat sunnah dan bukan kewajiban. Besaran Zakat Fitrah untuk Bayi Jika seorang bayi termasuk dalam kategori bayi baru lahir berzakat, maka jumlah zakat yang dikeluarkan sama dengan zakat fitrah orang dewasa. Besaran zakat fitrah adalah: 1 sha’ makanan pokok setara sekitar 2,5 – 3 kg beras Di Indonesia, banyak lembaga zakat juga memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang yang nilainya setara dengan harga beras tersebut. Namun, sebagian ulama tetap menganjurkan menunaikannya dalam bentuk makanan pokok sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Hikmah Membayar Zakat Fitrah untuk Bayi Pembahasan tentang bayi baru lahir berzakat juga mengandung hikmah yang mendalam dalam Islam. Beberapa hikmah tersebut antara lain: 1. Mengajarkan Kepedulian Sosial Sejak Awal Kehidupan Dengan membayarkan zakat fitrah untuk bayi, orang tua sebenarnya sedang menanamkan nilai kepedulian sosial sejak awal kehidupan anak. 2. Menyempurnakan Kewajiban Keluarga Zakat fitrah yang dibayarkan untuk seluruh anggota keluarga termasuk bayi menunjukkan kesempurnaan tanggung jawab seorang kepala keluarga. 3. Membersihkan Harta dan Jiwa Zakat fitrah memiliki fungsi sebagai pembersih jiwa dan harta, termasuk bagi keluarga yang baru saja mendapatkan anugerah kelahiran anak. Kesimpulan Pertanyaan mengenai bayi baru lahir berzakat sering muncul di kalangan umat Islam, terutama ketika kelahiran bayi terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Dalam Islam, hukum bayi baru lahir berzakat bergantung pada waktu kelahirannya. Jika bayi lahir sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan, maka ia wajib dibayarkan zakat fitrahnya oleh orang tua atau walinya. Namun, jika bayi lahir setelah matahari terbenam pada malam Idulfitri, maka ia tidak wajib dibayarkan zakat fitrah pada tahun tersebut. Meskipun demikian, orang tua tetap diperbolehkan mengeluarkan sedekah atas nama bayi sebagai bentuk rasa syukur atas kelahirannya. Memahami hukum bayi baru lahir berzakat membantu umat Islam menjalankan ibadah zakat fitrah dengan benar sesuai tuntunan syariat. Dengan demikian, zakat fitrah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga sarana mempererat kepedulian sosial dan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Memahami ketentuan zakat fitrah untuk seluruh anggota keluarga, termasuk bayi yang baru lahir, membantu kita menjalankan kewajiban dengan lebih sempurna. Pastikan zakat fitrah keluarga Anda ditunaikan tepat waktu dan disalurkan melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan oleh para mustahik yang membutuhkan di momen penuh berkah ini.
ARTIKEL12/03/2026 | Humas
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Mengapa Malam Lailatur Qadar Sangat Istimewa di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan ibadah yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan terbesar dalam bulan suci ini adalah hadirnya malam lailatur qadar, sebuah malam yang nilainya jauh lebih baik daripada seribu bulan. Malam ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim karena di dalamnya terdapat peluang besar untuk memperoleh pahala berlipat ganda serta ampunan dari Allah SWT. Malam lailatur qadar bukan sekadar malam biasa dalam kalender Islam. Ia merupakan malam penuh kemuliaan yang disebut secara khusus dalam Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan harapan dapat bertemu dengan malam yang sangat mulia ini. Makna dan Pengertian Malam Lailatur Qadar Secara bahasa, kata “lailatur qadar” berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata: lailah yang berarti malam dan qadar yang memiliki makna kemuliaan, ketetapan, atau takdir. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir. Dalam pandangan Islam, malam lailatur qadar adalah malam ketika Allah SWT menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Pada malam ini pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Allah SWT menjelaskan keistimewaan malam ini dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam lailatur qadar. Dan tahukah kamu apakah malam lailatur qadar itu? Malam lailatur qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat tersebut menegaskan bahwa satu malam lailatur qadar memiliki nilai ibadah yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Keutamaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Keistimewaan malam lailatur qadar membuatnya menjadi salah satu waktu yang paling berharga bagi umat Islam. Ada beberapa keutamaan yang menjadikan malam ini sangat istimewa di bulan Ramadhan. Lebih Baik dari Seribu Bulan Salah satu keutamaan terbesar malam lailatur qadar adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan. Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan tanpa adanya malam tersebut. Artinya, seorang muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada malam ini dapat memperoleh pahala yang sangat besar. Hal ini menjadi kesempatan yang luar biasa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Turunnya Malaikat ke Bumi Dalam Surah Al-Qadr ayat keempat disebutkan bahwa para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi pada malam lailatur qadar dengan membawa berbagai kebaikan dan keberkahan. Turunnya para malaikat ini menandakan betapa agung dan mulianya malam tersebut. Kehadiran para malaikat membawa ketenangan, rahmat, serta doa bagi orang-orang yang beribadah pada malam itu. Oleh karena itu, malam lailatur qadar sering digambarkan sebagai malam yang penuh kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Malam Penuh Ampunan Keutamaan lain dari malam lailatur qadar adalah adanya peluang besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatur qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menunjukkan bahwa malam lailatur qadar menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan memulai kehidupan yang lebih baik dengan penuh keimanan. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Malam lailatur qadar tidak diketahui secara pasti kapan terjadi. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Rasulullah SAW bersabda: “Carilah malam lailatur qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadis lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti malam lailatur qadar adalah agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya pada satu malam saja. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sejak awal sepuluh malam terakhir, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Walaupun waktu pasti malam lailatur qadar tidak diketahui, beberapa hadis menyebutkan tanda-tanda yang dapat dirasakan oleh umat Islam. Beberapa tanda tersebut antara lain: Malam terasa tenang dan penuh kedamaian Udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin Suasana malam terasa lebih tenteram dibanding malam lainnya Matahari terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan Namun demikian, tanda-tanda ini biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Oleh karena itu, umat Islam tetap dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama sepuluh malam terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Agar dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan ibadah. Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain: Shalat Malam Shalat malam atau qiyamul lail merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam lailatur qadar. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Shalat malam dapat dilakukan dalam bentuk shalat tahajud, shalat witir, maupun shalat tarawih yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. Membaca Al-Qur’an Karena malam lailatur qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an, membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah SWT. Memperbanyak Doa Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari malam lailatur qadar adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” Doa ini menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam lailatur qadar karena mengandung permohonan ampunan kepada Allah SWT. I’tikaf di Masjid Rasulullah SAW juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Dengan melakukan i’tikaf, seorang muslim dapat lebih fokus dalam beribadah dan menghindari gangguan dari aktivitas duniawi. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Tidak diketahui secara pasti kapan malam lailatur qadar terjadi. Hal ini merupakan hikmah besar dari Allah SWT agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu. Dengan dirahasiakannya waktu malam lailatur qadar, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini membuat kualitas ibadah menjadi lebih konsisten dan penuh kesungguhan. Selain itu, dirahasiakannya malam lailatur qadar juga mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seorang muslim tidak beribadah hanya karena mencari satu malam tertentu, tetapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sepanjang waktu. Pentingnya Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada masa inilah peluang untuk bertemu dengan malam lailatur qadar sangat besar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Mengurangi aktivitas yang tidak penting, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT menjadi langkah penting dalam meraih keberkahan malam tersebut. Semakin bersungguh-sungguh seseorang dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, semakin besar pula peluangnya untuk mendapatkan keutamaan malam lailatur qadar. Malam lailatur qadar merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Keistimewaan malam ini terletak pada pahala ibadah yang jauh lebih baik daripada seribu bulan, turunnya para malaikat, serta terbukanya pintu ampunan bagi hamba-hamba yang beriman. Karena itu, setiap muslim seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah, diharapkan kita dapat meraih keberkahan malam lailatur qadar serta mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu dengan malam lailatur qadar dan meraih keutamaannya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Jangan biarkan malam mulia ini berlalu tanpa jejak kebaikan yang abadi. Sempurnakan ikhtiar Anda menjemput keberkahan dengan berbagi kepada sesama. Salurkan infak dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS sekarang juga. Mari jadikan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini sebagai saksi kepedulian Anda terhadap umat.
ARTIKEL10/03/2026 | Humas
Lakukan Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Lakukan Amalan Ini untuk Memperoleh Keberkahan di Malam Lailatur Qadar
Malam Lailatur Qadar merupakan salah satu malam yang paling istimewa dalam ajaran Islam. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, sehingga umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keutamaan Malam Lailatur Qadar membuat banyak umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan tentang keagungan Malam Lailatur Qadar melalui Surah Al-Qadr. Pada malam tersebut, para malaikat turun ke bumi dengan membawa berbagai keberkahan dan ketentuan dari Allah SWT hingga terbitnya fajar. Karena itulah, Malam Lailatur Qadar menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Bagi setiap Muslim, memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar merupakan anugerah yang sangat besar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami amalan-amalan yang dianjurkan agar dapat meraih keutamaan malam yang penuh rahmat ini. Keistimewaan Malam Lailatur Qadar dalam Islam Malam Lailatur Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh kemuliaan tersebut. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Malam Lailatur Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih besar dibandingkan ibadah selama lebih dari 83 tahun. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Selain itu, pada Malam Lailatur Qadar para malaikat turun ke bumi membawa rahmat dan keberkahan. Malam tersebut juga dipenuhi dengan kedamaian hingga terbitnya fajar. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah agar tidak melewatkan kesempatan besar tersebut. Waktu Terjadinya Malam Lailatur Qadar Para ulama sepakat bahwa Malam Lailatur Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam dianjurkan untuk mencari Malam Lailatur Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Malam tersebut bisa terjadi pada malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dari dirahasiakannya waktu pasti Malam Lailatur Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan demikian, semangat ibadah tidak hanya terfokus pada satu malam saja. Amalan yang Dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar Untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak berbagai amalan ibadah. Amalan-amalan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih pahala yang berlipat ganda. 1. Memperbanyak Shalat Malam Salah satu amalan utama pada Malam Lailatur Qadar adalah melaksanakan shalat malam atau qiyamul lail. Shalat ini dapat berupa shalat tarawih, tahajud, maupun witir. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah. Shalat malam pada Malam Lailatur Qadar menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 2. Membaca Al-Qur’an Amalan lain yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar adalah membaca Al-Qur’an. Hal ini sangat relevan karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam yang mulia tersebut. Membaca, memahami, dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an pada Malam Lailatur Qadar akan menambah keberkahan dan pahala yang berlipat ganda. Aktivitas ini juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. 3. Memperbanyak Doa Berdoa merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Pada malam yang penuh rahmat ini, doa-doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Salah satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika mencari Malam Lailatur Qadar adalah doa yang diajarkan kepada Aisyah RA, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT yang Maha Pengampun. Dengan memperbanyak doa pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim dapat memohon berbagai kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. 4. Memperbanyak Istighfar dan Dzikir Istighfar dan dzikir merupakan amalan sederhana tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Pada Malam Lailatur Qadar, memperbanyak istighfar menjadi cara untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Selain itu, dzikir seperti tasbih, tahmid, dan takbir juga dapat dilakukan untuk mengingat kebesaran Allah SWT. Aktivitas ini akan membuat hati menjadi lebih tenang dan semakin dekat dengan Sang Pencipta. 5. Bersedekah Bersedekah juga termasuk amalan yang dianjurkan pada Malam Lailatur Qadar. Sedekah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar karena bertepatan dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bentuk sedekah dapat berupa membantu fakir miskin, memberikan makanan berbuka puasa, maupun menyumbang kepada lembaga sosial yang terpercaya. Dengan bersedekah pada Malam Lailatur Qadar, seorang Muslim tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga menebarkan kebaikan kepada sesama. 6. I’tikaf di Masjid I’tikaf merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah. Rasulullah SAW dikenal rutin melakukan i’tikaf untuk mencari Malam Lailatur Qadar. Dengan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas duniawi. I’tikaf juga menjadi momen refleksi diri untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Tanda-Tanda Malam Lailatur Qadar Sebagian ulama menyebutkan bahwa terdapat beberapa tanda yang dapat dirasakan ketika Malam Lailatur Qadar terjadi. Namun tanda-tanda tersebut biasanya baru disadari setelah malam tersebut berlalu. Beberapa tanda yang sering disebutkan dalam berbagai riwayat antara lain suasana malam yang terasa tenang, udara yang sejuk, serta matahari yang terbit pada pagi harinya dengan cahaya yang lembut. Meskipun demikian, umat Islam tidak dianjurkan untuk terlalu fokus mencari tanda-tanda tersebut. Yang lebih penting adalah memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar Allah SWT tidak menjelaskan secara pasti kapan Malam Lailatur Qadar terjadi. Hal ini memiliki hikmah yang besar bagi umat Islam. Jika waktu Malam Lailatur Qadar diketahui secara pasti, kemungkinan sebagian orang hanya akan beribadah pada malam tersebut saja. Namun dengan dirahasiakannya waktu malam itu, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan. Selain itu, dirahasiakannya Malam Lailatur Qadar juga menjadi ujian kesungguhan iman seseorang dalam beribadah kepada Allah SWT. Malam Lailatur Qadar merupakan kesempatan luar biasa bagi umat Islam untuk meraih pahala dan keberkahan yang sangat besar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, bersedekah, dan melakukan i’tikaf, seorang Muslim memiliki peluang besar untuk memperoleh keberkahan Malam Lailatur Qadar. Kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi kunci utama untuk meraih kemuliaan malam tersebut. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Malam Lailatur Qadar dan mendapatkan keberkahan yang Allah SWT janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Lengkapi amalan malam ganjil Anda dengan sedekah yang mengalirkan pahala tanpa putus. Klik di sini untuk berinfak melalui layanan digital BAZNAS yang aman dan amanah. Satu langkah kecil Anda malam ini, bisa menjadi pengetuk pintu langit untuk keberkahan hidup Anda.
ARTIKEL10/03/2026 | Humas
Tips untuk Ide Quality Time Keluarga Setelah Tarawih di Bulan Ramadan
Tips untuk Ide Quality Time Keluarga Setelah Tarawih di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan bukan hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga momen berharga untuk mempererat hubungan dalam keluarga. Setelah menunaikan salat tarawih, suasana malam biasanya lebih tenang dan hangat, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Quality time setelah tarawih dapat menjadi kebiasaan baik yang membuat Ramadan terasa lebih bermakna. Tidak harus dengan kegiatan yang besar, hal-hal sederhana pun bisa menghadirkan kebahagiaan dan kedekatan dalam keluarga. Berikut beberapa ide kegiatan yang dapat dilakukan bersama keluarga setelah tarawih. 1. Mengobrol Santai Sambil Menikmati Minuman Hangat Setelah kembali dari masjid atau selesai tarawih di rumah, keluarga dapat berkumpul sambil menikmati teh hangat, susu, atau minuman favorit lainnya. Momen ini bisa dimanfaatkan untuk saling bercerita tentang kegiatan hari itu, berbagi pengalaman, atau sekadar bercanda ringan. 2. Tadarus Al-Qur’an Bersama Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Setelah tarawih, keluarga dapat meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an bersama. Kegiatan ini tidak hanya menambah pahala, tetapi juga menanamkan kebiasaan baik kepada anak-anak untuk mencintai Al-Qur’an sejak dini. 3. Bermain Permainan Keluarga Permainan sederhana seperti tebak kata, permainan papan, atau kuis pengetahuan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Selain menghibur, permainan ini juga dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga. 4. Menonton Tayangan Inspiratif Menonton film atau tayangan yang mengandung nilai-nilai positif juga bisa menjadi pilihan. Pilihlah tontonan yang mendidik, inspiratif, atau bertema keluarga agar waktu yang dihabiskan tetap bermanfaat. 5. Menyiapkan Sahur Bersama Jika waktu memungkinkan, keluarga bisa mulai menyiapkan menu sahur bersama. Aktivitas ini bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang ingin belajar membantu di dapur. 6. Berbagi Cerita dan Nasihat Orang tua juga dapat memanfaatkan waktu setelah tarawih untuk berbagi kisah-kisah inspiratif, cerita nabi, atau pengalaman hidup yang mengandung pelajaran berharga. Percakapan sederhana seperti ini sering kali meninggalkan kesan mendalam bagi anak-anak. Pada akhirnya, quality time dalam keluarga tidak selalu membutuhkan rencana yang rumit. Yang terpenting adalah kebersamaan, perhatian, dan komunikasi yang hangat antar anggota keluarga. Ramadan memberikan kesempatan istimewa untuk memperkuat ikatan keluarga. Dengan memanfaatkan waktu setelah tarawih untuk berkumpul dan melakukan kegiatan positif, keluarga tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga menambah keberkahan di bulan yang penuh rahmat ini. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Trenggalek. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kabupaten Trenggalek. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: BAZNAS Kabupaten Trenggalek atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kabupaten Trenggalek di 0822-2821-9090 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. #HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq
ARTIKEL05/03/2026 | Humas
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Tata Cara Itikaf Agar Tetap Khusyuk
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang menjadi momen terbaik bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, adalah i'tikaf. Ibadah ini menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan lebih fokus, meninggalkan kesibukan dunia, serta memperbanyak ibadah di masjid. Banyak umat Islam yang ingin menjalankan i'tikaf namun belum memahami secara benar tata cara i'tikaf yang sesuai dengan tuntunan syariat. Padahal, memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, khusyuk, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Melalui pemahaman yang benar mengenai tata cara i'tikaf, seorang muslim tidak hanya sekadar berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Artikel ini akan membahas secara lengkap tata cara i'tikaf agar tetap khusyuk dan memberikan manfaat spiritual yang maksimal. Pengertian I'tikaf dalam Islam Sebelum memahami tata cara i'tikaf, penting bagi umat Islam untuk mengetahui terlebih dahulu makna dari ibadah ini. Secara bahasa, i'tikaf berasal dari kata "‘akafa" yang berarti berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Dalam istilah syariat Islam, i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT dalam waktu tertentu. Ibadah ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memfokuskan hati hanya kepada-Nya. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga amalan i'tikaf. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Rasulullah SAW selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa i'tikaf merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan karena pada malam-malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar. Waktu Pelaksanaan I'tikaf Dalam memahami tata cara i'tikaf, penting juga mengetahui waktu pelaksanaannya. I'tikaf sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selama berada di masjid dengan niat ibadah. Namun waktu yang paling utama adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa i'tikaf biasanya dimulai sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan hingga akhir Ramadhan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa seseorang dapat memulai i'tikaf setelah melaksanakan shalat Subuh pada hari ke-21. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang paling penting adalah melaksanakan i'tikaf dengan niat yang ikhlas serta mengikuti tata cara i'tikaf sesuai dengan tuntunan syariat. Niat I'tikaf Salah satu bagian penting dalam tata cara i'tikaf adalah niat. Seperti halnya ibadah lainnya dalam Islam, i'tikaf harus diawali dengan niat karena Allah SWT. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup di dalam hati. Meski demikian, banyak ulama juga mengajarkan lafaz niat i'tikaf sebagai berikut: "Nawaitul i'tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala." Artinya:"Aku berniat i'tikaf di masjid ini sebagai ibadah sunnah karena Allah Ta'ala." Dengan niat yang tulus, ibadah i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan dengan Allah serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Tata Cara I'tikaf yang Benar Memahami tata cara i'tikaf sangat penting agar ibadah ini tidak hanya menjadi aktivitas berdiam diri di masjid, tetapi benar-benar menjadi momen spiritual yang mendalam. Berikut beberapa tata cara i'tikaf yang dapat dilakukan oleh umat Islam. 1. Dilakukan di Masjid Tata cara i'tikaf yang pertama adalah dilakukan di masjid. Para ulama sepakat bahwa i'tikaf harus dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid."(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan bahwa tempat pelaksanaan i'tikaf adalah di masjid. Sebagian ulama juga menganjurkan agar i'tikaf dilakukan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah. 2. Memperbanyak Ibadah Tata cara i'tikaf berikutnya adalah memperbanyak ibadah selama berada di masjid. Tujuan utama i'tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang dapat dilakukan selama i'tikaf antara lain: Membaca Al-Qur'an Melakukan shalat sunnah Berdzikir dan berdoa Mendengarkan kajian keislaman Muhasabah atau introspeksi diri Dengan memperbanyak ibadah, i'tikaf menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. 3. Menjaga Lisan dan Perilaku Dalam tata cara i'tikaf, menjaga lisan dan perilaku merupakan hal yang sangat penting. Orang yang sedang beri'tikaf dianjurkan untuk menjauhi perbuatan yang sia-sia seperti bercanda berlebihan, bergosip, atau melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. I'tikaf seharusnya menjadi momen untuk menenangkan hati dan memperbanyak mengingat Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga adab selama berada di masjid menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah ini. 4. Fokus pada Ibadah Salah satu tujuan utama dari tata cara i'tikaf adalah membantu seorang muslim memusatkan perhatian pada ibadah. Oleh karena itu, selama i'tikaf sebaiknya mengurangi aktivitas yang berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya, mengurangi penggunaan ponsel untuk hal-hal yang tidak penting, tidak terlalu banyak berbincang, serta menghindari kegiatan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Dengan fokus pada ibadah, i'tikaf akan memberikan ketenangan batin dan meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 5. Keluar dari Masjid Hanya untuk Keperluan Penting Dalam tata cara i'tikaf juga dijelaskan bahwa seseorang tidak dianjurkan keluar dari masjid kecuali untuk keperluan yang sangat penting. Misalnya untuk makan, ke kamar mandi, atau hal mendesak lainnya. Hal ini dilakukan agar tujuan utama i'tikaf yaitu berdiam diri untuk beribadah kepada Allah tetap terjaga. Namun jika seseorang harus keluar dari masjid karena kebutuhan mendesak, maka hal tersebut tidak membatalkan i'tikaf selama masih dalam batas yang wajar. Amalan yang Dianjurkan Saat I'tikaf Agar tata cara i'tikaf dapat memberikan manfaat maksimal, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan selama menjalankannya. Pertama adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sehingga membaca dan mentadabburi ayat-ayatnya menjadi ibadah yang sangat utama. Kedua adalah memperbanyak doa. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa terutama doa memohon ampunan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca saat mencari malam Lailatul Qadar: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni." Artinya:"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku." Ketiga adalah memperbanyak dzikir dan istighfar. Dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, hati akan menjadi lebih tenang dan ibadah terasa lebih khusyuk. Hikmah Melaksanakan I'tikaf Melaksanakan tata cara i'tikaf dengan benar memberikan banyak hikmah bagi kehidupan seorang muslim. Pertama, i'tikaf membantu seseorang untuk lebih fokus dalam beribadah. Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, i'tikaf menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Kedua, i'tikaf melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan berdiam diri di masjid, seorang muslim belajar mengendalikan hawa nafsu dan lebih disiplin dalam beribadah. Ketiga, i'tikaf menjadi sarana untuk membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dalam suasana masjid yang tenang, seorang muslim dapat merenungkan kehidupannya dan memperbaiki niat serta amal perbuatannya. Keempat, i'tikaf memberikan peluang besar untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan. Memahami tata cara i'tikaf merupakan langkah penting agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar dan penuh kekhusyukan. I'tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amalan, serta membersihkan hati dari berbagai kesibukan dunia. Dengan menjalankan tata cara i'tikaf sesuai tuntunan Rasulullah SAW, seorang muslim dapat memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan dunia, i'tikaf mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah, memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Semoga dengan memahami tata cara i'tikaf dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan, Allah SWT memberikan keberkahan dalam setiap ibadah yang kita lakukan serta mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. I’tikaf adalah waktu terbaik untuk memutus hiruk-pikuk dunia dan fokus pada Sang Pencipta. Namun, jangan lupakan hak kaum miskin dalam harta kita. Kini, Anda bisa tetap menjaga kekhusyukan di dalam masjid sambil tetap menunaikan kedermawanan secara praktis. Gunakan layanan zakat dan infak online BAZNAS Trenggalek untuk memastikan ibadah sosial Anda tetap berjalan beriringan dengan ibadah ritual. Raih kemuliaan i'tikaf yang sempurna dengan tangan yang memberi.
ARTIKEL05/03/2026 | Humas
Amalan Sunnah Setelah Sahur yang Sering Terlewat
Amalan Sunnah Setelah Sahur yang Sering Terlewat
Sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum berpuasa. Dalam ajaran Islam, sahur adalah waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, sering kali umat Islam hanya fokus pada makan dan minum, lalu kembali tidur atau bersiap beraktivitas tanpa memperhatikan sunnah setelah sahur yang sebenarnya sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Padahal, sunnah setelah sahur memiliki nilai ibadah yang besar. Waktu menjelang Subuh adalah bagian dari sepertiga malam terakhir, saat doa-doa diijabah dan ampunan Allah SWT dibuka seluas-luasnya. Karena itu, memahami dan mengamalkan sunnah setelah sahur akan membuat ibadah puasa kita semakin sempurna dan bermakna. Artikel ini akan mengulas secara lengkap amalan sunnah setelah sahur yang sering terlewat, disertai dalil dan referensi agar kita semakin yakin untuk mengamalkannya. Keutamaan Sahur dalam Islam Sebelum membahas sunnah setelah sahur, penting bagi kita memahami bahwa sahur sendiri adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keberkahan sahur tidak hanya terletak pada kekuatan fisik untuk berpuasa, tetapi juga pada dimensi spiritualnya. Sahur membedakan puasa umat Islam dengan umat sebelumnya dan menjadi bentuk ketaatan kepada sunnah Nabi. Namun, keberkahan itu akan semakin sempurna ketika kita mengisi waktu setelah sahur dengan amalan yang dicontohkan dalam Islam. Memperbanyak Doa sebagai Sunnah Setelah Sahur Salah satu sunnah setelah sahur yang sering terlewat adalah memperbanyak doa. Waktu sahur berada di penghujung malam, tepatnya pada sepertiga malam terakhir. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri.” Ini adalah momen istimewa yang tidak seharusnya dilewatkan. Setelah selesai makan sahur, jangan terburu-buru beranjak atau kembali tidur. Luangkan waktu untuk berdoa, memohon ampunan, memohon rezeki, kesehatan, dan keteguhan iman. Doa setelah sahur dapat menjadi pembuka hari yang penuh keberkahan dan ketenangan hati. Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur Selain doa, sunnah setelah sahur berikutnya adalah memperbanyak istighfar. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman dalam Al-Qur’an: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”(QS. Adz-Dzariyat: 18) Ayat ini menunjukkan bahwa waktu sahur adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk beristighfar. Mengucapkan istighfar dengan penuh kesadaran dapat membersihkan hati dan membuka pintu rahmat Allah SWT. Istighfar setelah sahur juga menjadi bentuk pengakuan bahwa kita adalah hamba yang penuh kekurangan dan membutuhkan ampunan-Nya setiap saat. Menjaga Shalat Subuh Berjamaah Sunnah setelah sahur yang tidak kalah penting adalah bersiap menyambut shalat Subuh. Setelah makan sahur, jangan kembali terlelap hingga melewatkan waktu shalat. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya shalat Subuh berjamaah. Dalam hadis disebutkan bahwa shalat Subuh berjamaah lebih utama dan memiliki pahala besar. Mengisi waktu antara sahur dan azan Subuh dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, atau shalat sunnah sebelum Subuh akan membuat puasa kita dimulai dengan ibadah yang sempurna. Membaca Al-Qur’an Setelah Sahur Waktu setelah sahur adalah saat pikiran masih jernih dan suasana masih tenang. Ini menjadi waktu ideal untuk membaca Al-Qur’an. Membaca beberapa ayat sebelum Subuh atau setelah shalat Subuh termasuk sunnah setelah sahur yang sangat dianjurkan, terutama di bulan Ramadhan. Interaksi dengan Al-Qur’an di waktu pagi akan menenangkan hati dan memberi energi spiritual untuk menjalani aktivitas seharian. Berdzikir dan Mengawali Hari dengan Niat yang Lurus Sunnah setelah sahur juga mencakup dzikir pagi. Membaca dzikir pagi setelah Subuh dapat melindungi kita dari keburukan sepanjang hari. Rasulullah SAW dikenal tidak meninggalkan dzikir pagi dan petang. Niat yang lurus untuk menjalani hari karena Allah SWT akan menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah. Bahkan pekerjaan sekalipun bisa menjadi pahala jika diniatkan untuk kebaikan. Menghindari Tidur Berlebihan Setelah Sahur Banyak orang selesai sahur lalu langsung tidur kembali hingga matahari terbit. Padahal, kebiasaan ini dapat membuat kita melewatkan banyak keutamaan. Islam menganjurkan untuk memanfaatkan waktu pagi. Rasulullah SAW berdoa agar umatnya diberkahi pada waktu pagi hari. Oleh karena itu, menghindari tidur berlebihan termasuk bagian dari menjaga sunnah setelah sahur agar waktu penuh berkah tidak terbuang sia-sia. Menjadikan Waktu Subuh sebagai Momentum Berbagi Sunnah setelah sahur tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga kepedulian sosial. Waktu Subuh adalah momentum yang sangat baik untuk berbagi kepada sesama. Selain memperbanyak doa dan istighfar setelah sahur, jadikan waktu subuh sebagai momentum berbagi. Awali hari dengan sedekah subuh agar aktivitas kita sepanjang hari dilimpahi keberkahan dan pahala yang terus mengalir. Klik di sini untuk bersedekah. Sedekah di waktu Subuh memiliki keutamaan tersendiri. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap pagi ada malaikat yang mendoakan orang yang bersedekah agar diberikan ganti yang lebih baik. Dengan menjadikan sedekah sebagai bagian dari sunnah setelah sahur, kita tidak hanya memperkaya ruhani, tetapi juga membantu meringankan beban saudara-saudara yang membutuhkan. Hikmah Mengamalkan Sunnah Setelah Sahur Menghidupkan sunnah setelah sahur memberikan banyak hikmah, di antaranya: Menyempurnakan ibadah puasa. Mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT. Memulai hari dengan hati yang tenang. Meningkatkan kualitas spiritual selama Ramadhan. Mendapat keberkahan waktu dan rezeki. Ketika kita mengisi waktu sahur dengan ibadah, puasa tidak hanya menjadi kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga perjalanan spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan Biarkan Sunnah Setelah Sahur Terlewat Sunnah setelah sahur adalah amalan ringan namun memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang muslim. Mulai dari memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, menjaga shalat Subuh, hingga bersedekah di waktu pagi — semuanya adalah pintu keberkahan yang sering kali terlewat karena kelalaian kita. Mari kita jadikan waktu sahur bukan hanya sebagai momen mengisi energi fisik, tetapi juga mengisi hati dengan cahaya iman. Dengan mengamalkan sunnah setelah sahur secara konsisten, kita berharap puasa yang kita jalani semakin berkualitas dan diterima oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk istiqamah dalam menghidupkan sunnah setelah sahur dan menjadikan setiap pagi sebagai awal kebaikan yang terus mengalir hingga akhir hayat. Selain memperbanyak doa dan istighfar setelah sahur, jadikan waktu subuh sebagai momentum berbagi. Awali hari dengan sedekah subuh agar aktivitas kita sepanjang hari dilimpahi keberkahan dan pahala yang terus mengalir.
ARTIKEL04/03/2026 | Humas
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Apa Saja yang Membatalkan Puasa Selain Makan dan Minum
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah yang dinanti oleh umat Islam. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan ibadah tersebut. Banyak di antara kita sudah memahami bahwa makan dan minum dengan sengaja termasuk yang membatalkan puasa. Namun, pertanyaannya, apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum? Memahami apa saja yang membatalkan puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalani tidak sia-sia. Sebagai muslim, kita tentu ingin memastikan bahwa puasa yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menegaskan batasan waktu puasa, sekaligus menjadi dasar bahwa ada hal-hal tertentu yang dapat membatalkan puasa. Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Saja yang Membatalkan Puasa Menurut Syariat Islam Dalam fikih Islam, para ulama telah merinci apa saja yang membatalkan puasa berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ijma’. Berikut beberapa hal yang wajib kita pahami. 1. Makan dan Minum dengan Sengaja Ini adalah pembatal puasa yang paling jelas. Jika seseorang makan atau minum dengan sengaja pada siang hari Ramadan, maka puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Namun, jika makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa lupa sedang ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Berhubungan Suami Istri di Siang Hari Ramadan Berhubungan badan pada siang hari Ramadan termasuk dosa besar dan membatalkan puasa. Bahkan, pelakunya tidak hanya wajib mengqadha puasa, tetapi juga membayar kafarat (denda) yang berat, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Kafarat tersebut berupa: Memerdekakan budak (jika mampu), Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 orang miskin. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran tersebut dalam syariat Islam. 3. Keluar Mani dengan Sengaja Apa saja yang membatalkan puasa juga mencakup keluarnya mani dengan sengaja, misalnya karena onani atau rangsangan tertentu yang disengaja. Jika mani keluar karena perbuatan yang disengaja, maka puasanya batal. Namun, jika keluar karena mimpi basah, maka puasanya tetap sah karena hal itu terjadi di luar kendali seseorang. 4. Muntah dengan Sengaja Muntah juga termasuk dalam daftar apa saja yang membatalkan puasa apabila dilakukan dengan sengaja. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa muntah dengan tidak sengaja maka tidak wajib qadha atasnya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja maka wajib baginya qadha.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, misalnya karena sakit atau mual tiba-tiba, maka puasa tetap sah. 5. Haid dan Nifas Bagi perempuan, datangnya haid atau nifas termasuk yang membatalkan puasa. Bahkan jika darah haid keluar beberapa menit sebelum maghrib, maka puasa hari itu tetap batal dan wajib diganti di lain waktu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa perempuan yang haid tidak diwajibkan shalat dan puasa, serta wajib mengganti puasa yang ditinggalkan. 6. Hilang Akal atau Gila Seseorang yang kehilangan akal karena gila atau pingsan sepanjang hari, puasanya tidak sah. Karena salah satu syarat sah puasa adalah berakal. Namun, jika pingsan hanya sebagian waktu dan masih sempat sadar walau sebentar di siang hari, maka menurut sebagian ulama puasanya tetap sah. 7. Murtad (Keluar dari Islam) Keluar dari Islam atau murtad juga termasuk apa saja yang membatalkan puasa. Karena syarat utama sahnya puasa adalah beragama Islam. Jika seseorang keluar dari Islam, maka seluruh amalnya gugur hingga ia kembali bertobat. Allah SWT berfirman: “Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 217) Hal-Hal yang Dikira Membatalkan Puasa, Padahal Tidak Agar tidak salah paham dalam memahami apa saja yang membatalkan puasa, penting juga mengetahui hal-hal yang sering disangka membatalkan, padahal tidak. Beberapa di antaranya: Berkumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu (selama tidak berlebihan) Menelan ludah sendiri Menggunakan obat tetes mata menurut mayoritas ulama Suntikan yang tidak mengandung nutrisi (menurut sebagian pendapat ulama kontemporer) Mimpi basah Namun, tetap dianjurkan untuk berhati-hati agar tidak terjerumus pada hal yang meragukan. Hikmah Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Mengetahui apa saja yang membatalkan puasa bukan sekadar untuk menghindari kesalahan teknis, tetapi juga untuk menjaga kesucian ibadah. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia melatih kejujuran, karena hanya diri kita dan Allah yang benar-benar tahu apakah kita menjaga puasa dengan baik atau tidak. Sebagai muslim, memahami hukum-hukum puasa juga bagian dari menuntut ilmu yang diwajibkan. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah) Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih terarah dan sesuai tuntunan. Pentingnya Memahami Apa Saja yang Membatalkan Puasa Pada akhirnya, memahami apa saja yang membatalkan puasa selain makan dan minum adalah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga ibadah Ramadan. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus seharian, tetapi lalai terhadap hal-hal lain yang justru membatalkan puasa. Sebagai umat Islam, mari kita terus memperdalam ilmu fikih agar ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai maksimal di sisi Allah SWT. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni kekhilafan kita, dan menjadikan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang hakiki. Wallahu a’lam bish-shawab. Menjaga puasa dari hal-hal yang membatalkan adalah bentuk ketaatan, namun menyempurnakannya dengan sedekah dan infak akan menjadikan Ramadhan lebih bermakna. Mari jaga ibadah sekaligus kuatkan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini.
ARTIKEL04/03/2026 | Humas
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Trenggalek.

Lihat Daftar Rekening →